SKIZOFRENIA
SKIZOFRENIA
BAB
I
PENDAHULUAN
Skizofrenia
adalah gangguan psikotik yang ditandai dengan gangguan utama dalam pikiran,
emosi, dan perilaku, pikiran yang terganggu, dimana berbagai pemikiran tidak
salaing berhubungan secara logis, persepsi dan perhatian yang keliru afek yang
datar atau tidak sesuai, dan berbagai gangguan aktifitas motorik yang bizzare
(perilaku aneh), pasien skizofrenia menarik diri dari orang lain dan kenyataan,
sering kali masuk ke dalam kehidupan fantasi yang penuh delusi dan halusinasi.
Orang-orang yang menderita skozofrenia umunya mengalami beberapa episode akut
simtom–simtom, diantara setiap episode mereka sering mengalami simtom–simtom
yang tidak terlalu parah namun tetap sangat menggagu keberfungsian mereka.
Komorbiditas dengan penyalahguanaan zat merupakan masalah utama bagi para
pasien skizofrenia, terjadi pada sekitar 50 persennya. (Konsten & Ziedonis.
1997, dalam Davison 2010).
|
Skizofrenia merupakan salah satu
penyakit otak dan tergolong ke dalam jenis gangguan mental yang serius.
Sekitar 1% dari populasi dunia menderita penyakit ini. Pasien biasanya
menunjukkan gejala awal saat masih berusia muda, namun penyakit ini bisa
terjadi pada semua tingkatan usia dan memengaruhi baik laki-laki maupun
perempuan dengan tingkat risiko yang sama. Banyak orang salah paham terhadap
pasien skizofrenia. Mereka dianggap memiliki kepribadian ganda, padahal
sebenarnya penyakit ini memengaruhi emosi, persepsi, dan pemikiran mereka,
yang menyebabkan perilaku abnormal dengan tetap satu kepribadian tunggal. Skizofrenia
bisa diobati, tetapi penyakit ini memiliki tingkat kekambuhan yang tinggi.
Semakin cepat dideteksi dan diobati, semakin baik prognosis untuk
pemulihannya.
|
BAB
II
KAJIAN
PUSTAKA
2.1
Definisi
Skizofrenia
Skizofrenia
adalah suatu deskripsi sindrom dengan variasi penyebab (banyak belum diketahui)
dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis atau “deteriorating”) yang
luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada perimbangan pengaruh genetik,
fisik, dan sosial budaya (Maslim Rusdi, 2013).
Pada
umumnya ditandai oleh penyimpangan yang fundamental dan karakteristik dari
pikiran dan persepsi, serta oleh afek yang tidak wajar (inappropriate) or tumpul (blunted).
Kesadaran yang jernih (clear conciousness)
dan kemampuan intelektual biasanya tetap terpelihara, walaupun kemunduran
kognitif tertentu dapat berkembang kemudian (Maslim Rusdi, 2013).
2.2
Etiologi
Skizofrenia
Terdapat beberapa pendekatan yang dominan dalam menganalisa
penyebab skizofrenia, antara lain :
a.
Faktor Genetik
Menurut Maramis (1995), faktor keturunan juga menentukan timbulnya
skizofrenia. Hal ini telah dibuktikan dengan penelitian tentang
keluarga-keluarga penderita skizofrenia terutama anak-anak kembar satu telur.
Angka kesakitan bagi saudara tiri ialah 0,9 - 1,8%; bagi saudara kandung 7 –
15%; bagi anak dengan salah satu orangtua yang menderita skizofrenia 7 – 16%;
bila kedua orangtua menderita skizofrenia 40 – 68%; bagi kembar dua telur
(heterozigot) 2 -15%; bagi kembar satu telur (monozigot) 61 – 86%.
Skizofrenia melibatkan lebih dari satu gen, sebuah fenomena yang
disebut quantitative trait loci. Skizofrenia yang paling sering kita
lihat mungkin disebabkan oleh beberapa gen yang berlokasi di tempat-tempat yang
berbeda di seluruh kromosom. Ini juga mengklarifikasikan mengapa ada gradasi
tingkat keparahan pada orang-orang yang mengalami gangguan ini (dari ringan
sampai berat) dan mengapa risiko untuk mengalami skizofrenia semakin tinggi
dengan semakin banyaknya jumlah anggota keluarga yang memiliki penyakit ini
(Durand & Barlow, 2007).
b.
Faktor Biokimia
Skizofrenia
mungkin berasal dari ketidakseimbangan kimiawi otak yang disebut
neurotransmitter, yaitu kimiawi otak yang memungkinkan neuron-neuron
berkomunikasi satu sama lain. Beberapa ahli mengatakan bahwa skizofrenia
berasal dari aktivitas neurotransmitter dopamine yang berlebihan di
bagian-bagian tertentu otak atau dikarenakan sensitivitas yang abnormal
terhadap dopamine. Banyak ahli yang berpendapat bahwa aktivitas dopamine
yang berlebihan saja tidak cukup untuk skizofrenia. Beberapa neurotransmitter
lain seperti serotonin dan norepinephrine tampaknya juga
memainkan peranan (Durand, 2007).
c.
Faktor Psikologis dan Sosial
Faktor psikososial meliputi
adanya kerawanan herediter yang semakin lama semakin kuat, adanya trauma yang
bersifat kejiwaan, adanya hubungan orang tua-anak yang patogenik, serta
interaksi yang patogenik dalam keluarga (Wiraminaradja & Sutardjo, 2005).
Banyak penelitian yang
mempelajari bagaimana interaksi dalam keluarga mempengaruhi penderita
skizofrenia. Sebagai contoh, istilah schizophregenic mother kadang-kadang
digunakan untuk mendeskripsikan tentang ibu yang memiliki sifat dingin,
dominan, dan penolak, yang diperkirakan menjadi penyebab skizofrenia pada
anak-anaknya (Durand & Barlow, 2007).
Menurut Coleman dan Maramis (1994 dalam
Baihaqi et al, 2005), keluarga pada masa kanak-kanak memegang
peranan penting dalam pembentukan kepribadian. Orangtua terkadang bertindak
terlalu banyak untuk anak dan tidak memberi kesempatan anak untuk berkembang,
ada kalanya orangtua bertindak terlalu sedikit dan tidak merangsang anak, atau
tidak memberi bimbingan dan anjuran yang dibutuhkannya.
2.3. Epidemiologi Skizofrenia
Skizofrenia
dapat ditemukan pada semua kelompok masyarakat dan di berbagai daerah. Insiden
dan tingkat prevalensi sepanjang hidup secara kasar hampir sama di seluruh
dunia. Gangguan ini mengenai hampir 1% populasi dewasa dan biasanya onsetnya
pada usia remaja akhir atau awal masa dewasa
Pada
laki-laki biasanya gangguan ini mulai pada usia lebih muda yaitu 15-25 tahun
sedangkan pada perempuan lebih lambat yaitu sekitar 25-35 tahun. Insiden
skizofrenia lebih tinggi pada laki-laki daripada perempuan dan lebih besar di
daerah urban dibandingkan daerah rural (Sadock, 2003).
Pasien
skizofrenia beresiko meningkatkan risiko penyalahgunaan zat, terutama
ketergantungan nikotin. Hampir 90% pasien mengalami ketergantungan nikotin.
Pasien skizofrenia juga berisiko untuk bunuh diri dan perilaku menyerang. Bunuh
diri merupakan penyebab kematian pasien skizofrenia yang terbanyak, hampir 10%
dari pasien skizofrenia yang melakukan bunuh diri (Kazadi, 2008).
Menurut
Howard, Castle, Wessely, dan Murray, 1993 di seluruh dunia prevalensi seumur
hidup skizofrenia kira-kira sama antara laki-laki dan perempuan diperkirakan
sekitar 0,2%-1,5%. Meskipun ada beberapa ketidaksepakatan tentang distribusi
skizofrenia di antara laki-laki dan perempuan, perbedaan di antara kedua jenis
kelamin dalam hal umur dan onset-nya jelas. Onset untuk perempuan lebih
rendah dibandingkan laki-laki, yaitu sampai umur 36 tahun, yang perbandingan
risiko onsetnya menjadi terbalik, sehingga lebih banyak perempuan yang
mengalami skizofrenia pada usia yang lebih lanjut bila dibandingkan dengan
laki-laki (Durand, 2007).
2.4 Klasifikasi Skizofrenia
a.
Skizofrenia paranoid
Ciri utama skizofrenia tipe ini
adalah waham yang mencolok atau halusinasi auditorik dalam konteks terdapatnya
fungsi kognitif dan afektif yang relatif masih terjaga. Waham biasanya adalah
waham kebesaran. Tetapi waham dengan tema lain (misalnya waham kecemburuan,
keagamaan atau somatis) mungkin juga muncul. Ciri-ciri lainnya meliputi
ansietas, kemarahan, menjaga jarak dan suka berargumentasi dan agresif
b.
Skizofrenia Hebefrenik
Permulaanya perlahan-lahan atau subakut dan sering
timbul pada masa remaja atau antara 15 – 25 tahun. Gejala yang mencolok adalah
gangguan proses berpikir, gangguan kemauan dan adanya depersonalisasi atau double
personality. Gangguan psikomotor seperti mannerism, neologisme atau
perilaku kekanak-kanakan sering terdapat pada skizofrenia heberfrenik.
c.
Skizofrenia katatonik
Ciri utama skizofrenia tipe ini adalah
gangguan pada psikomotor yang dapat meliputi ketidakbergerakan motorik (waxy flexibility). Aktivitas motor yang
berlebihan, negativisme yang ekstrim, sama sekali tidak mau bicara dan
berkomunikasi (mutism).
Gerakan-gerakan yang tidak terkendali. Mengulang ucapan orang lain (echolalia) atau mengikuti tingkah laku
orang lain (echopraxia).
d.
Skizofrenia Tak Terinci
(Undifferentiated)
Tipe
Undifferentiated merupakan tipe skizofrenia yang menampilkan perubahan pola
simptom-simptom yang cepat menyangkut semua indikator skizofrenia. Misalnya,
indikasi yang sangat ruwet, kebingungan (confusion),
emosi yang tidak dapat dipegang karena berubah-ubah, adanya delusi, referensi
yang berubah-ubah atau salah, adanya ketergugahan yang sangat besar, autisme seperti
mimpi, depresi, dan sewaktu-waktu juga ada fase yang menunjukkan ketakutan.
e.
Skizofrenia Residual
Tipe
ini merupakan kategori yang dianggap telah terlepas dari skizofrenia tetapi
masih memperlihatkan gejala-gejala residual atau sisa, seperti
keyakinan-keyakinan negatif, atau mungkin masih memiliki ide-ide tidak wajar
yang tidak sepenuhnya delusional. Gejala-gejala residual itu dapat meliputi
menarik diri secara sosial, pikiran-pikiran ganjil, inaktivitas, dan afek
datar.
f.
Skizofrenia Simplex
Sering
timbul pertama kali pada masa pubertas.Gejala utama pada jenis simplex adalah
kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan. Gangguan proses berpikir biasanya
sukar ditemukan. Waham dan halusinasi jarang sekali ditemukan.
2.5 Gejala Skizofrenia
Simtom-simtom
yang dialami pasien skizofrenia mencakup gangguan dalam beberapa hal penting
pikiran, persepsi, dan perhatian. Perilaku motorik , afek, atau emosi, dan
keberfungsian hidup. Rentang masalah orang-orang yang didiagnosis menderita
skizofrenia sangat luas, meskipun dalam satu waktu pasien umumnya mengalami
hanya beberapa dari masalah tersebut. Dalam hal ini akan diuraikan beberapa
simtom-simtom utama skizofrenia dalam tiga kategori. Simtom positif, simtom
negatif, dan simtom disorganisasi. (Davison, 2010).
1.
Simtom positif.
a.
Delusi
b.
Disorganisasi konseptual
c.
Halusinasi
d.
Kegembiraan
e.
Kebesaran
f.
Mencurigakan
g.
Permusuhan
2.
Simtom negatif.
a.
Blunted mempengaruhi
b.
Penarikan sosial
c.
Hubungan yang buruk
d.
Penarikan sosial
pasif/apatis
e.
Kesulitan berpikir abstrak
f.
Kurangnya spontanitas dan
aliran percakapan
g.
Berpikir stereotif
3.
Simtom disorganisasi.
Simtom–simtom
disorganisasi mencakup disorganisasi pembicaraan dan perilaku aneh (bizarre).
Disorganisasi pembicaraan juga dikenal sebagai gangguan berfikir formal, disorganisasi
pembicaraan merujuk pada masalah dalam mengorganisasi berbagai pemikiran dan
dalam berbicara sehingga pendengar dapat memahaminya. Perilaku aneh terwujud
dalam banyak bentuk, pasien dapat meledak dalam kemarahan atau konfrontasi
singkat yang tidak dapat dimengerti, memakai pakaian yang tidak biasa,
bertingkah seperti anak–anak, atau dengan gaya yang konyol, menyimpan makanan,
mengumpulkan sampah atau melakukan perilaku seksual yang tidak pantas.
2.6 Diagnosis Skizofrenia
Pedoman diagnostik:
Harus ada sedikitnya satu gejala
berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua gejala atau lebih bila
gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):
a.
“Thought echo” = isi pikiran
dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya (tidak keras), dan
isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama, namun kualitasnya berbeda
“Thought insertion” or “withdrawal”
= isi pikiran yang asing dari luar masuk ke dalam pikirannya (insertion) atau
isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawal)
“Thought broadcasting”
= isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau umum mengetahuinya
b.
“Delusion of control” =
waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari luar
“Delusion of influence”
= waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari luar
“Delusion of passivity”
= waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari
luar
(Tentang dirinya =
secara jelas merujuk ke pergerakan tubuh/anggita gerak atau ke pikiran,
tindakan, atau penginderaan khusus)
“Delusional perception”
= pengalaman inderawi yang tak wajar, yang bermakna sangat khas bagi dirinya,
biasanya bersifat mistik atau mukjizat
c. Halusinasi auditorik:
-suara halusinasi yang
berkomentar secara terus-menerus terhadap perilaku pasien atau
-mendiskusikan perihal
pasien diantara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang berbicara), atau
-jenis suara halusinasi
lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh
d. Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya
setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal
keyakinan agama atau politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan di atas
manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi dengan
mahluk asing dan dunia lain)
Atau paling
sedikit dua gejala di bawah ini yang harus selalu ada secara jelas:
e.
Halusinasi yang menetap dan
panca-indera apa saja, apabila disertai baik oleh waham yang mengambang maupun
yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai
oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas) yang menetap, atau apabila
terjadi setiap hari selama berminggu minggu atau berbulan-bulan terus menerus;
f.
Arus pikiran yang terputus (break)
atau yang mengalami sisipan (interpolation), yang berkibat inkoherensi
atau pembicaraan yang tidak relevan, atau neologisme;
g.
Perilaku katatonik, seperti keadaan
gaduh-gelisah (excitement), posisi tubuh tertentu (posturing), atau
fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan stupor;
h.
Gejala-gejala negatif, seperti sikap
sangat apatis, bicara yang jarang, dan respons emosional yang menumpul atau
tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial
dan menurunnya kinerja sosial; tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut
tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika;
Adanya gejala-gejala khas
tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau lebih
(tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik (prodromal)
Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan (overall quality) dan beberapa aspek perilaku pribadi (personal behavior), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu sikap larut dalam diri sendiri (self-absorbed attitude) dan penarikan diri secara sosial.
Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan (overall quality) dan beberapa aspek perilaku pribadi (personal behavior), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu sikap larut dalam diri sendiri (self-absorbed attitude) dan penarikan diri secara sosial.
2.7
Diagnosis Banding Skizofrenia
1. Epilepsi
dan psikosis yang diinduksi oleh obat-obatan
2. Keadaan
paranoid involusional
3. Paranoia
2.8
Penatalaksaan
Skizofrenia
Penatalaksanaan
pada pasien skizofrenia dapat berupa terapi biologis, dan terapi psikososial.
1.
Terapi
Biologis
Pada penatalaksanaan terapi
biologis terdapat tiga bagian yaitu terapi dengan menggunakan obat
antipsikosis, terapi elektrokonvulsif, dan pembedahan bagian otak. Terapi
dengan penggunaan obat antipsikosis dapat meredakan gejala-gejala skizofrenia.
Obat yang digunakan adalah chlorpromazine (thorazine) dan fluphenazine
decanoate (prolixin). Kedua obat tersebut termasuk kelompok obat
phenothiazines, reserpine (serpasil), dan haloperidol (haldol). Obat ini
disebut obat penenang utama. Obat tersebut dapat menimbulkan rasa kantuk dan
kelesuan, tetapi tidak mengakibatkan tidur yang lelap, sekalipun dalam dosis
yang sangat tinggi (orang tersebut dapat dengan mudah terbangun). Obat ini
cukup tepat bagi penderita skizofrenia yang tampaknya tidak dapat menyaring
stimulus yang tidak relevan (Durand, 2007).
Terapi Elektrokonvulsif juga
dikenal sebagai terapi electroshock pada penatalaksanaan terapi biologis. Pada
akhir 1930-an, electroconvulsive therapy (ECT) diperkenalkan sebagai
penanganan untuk skizofrenia.Tetapi terapi ini telah menjadi pokok perdebatan
dan keprihatinan masyarakat karena beberapa alasan. ECT ini digunakan di
berbagai rumah sakit jiwa pada berbagai gangguan jiwa, termasuk skizofrenia.
Menurut Fink dan Sackeim
(1996) antusiasme awal terhadap ECT semakin memudar karena metode ini kemudian
diketahui tidak menguntungkan bagi sebagian besar
penderita skizofrenia meskipun penggunaan terapi ini masih dilakukan hingga
saat ini. Sebelum prosedur ECT yang lebih manusiawi dikembangkan, ECT merupakan
pengalaman yang sangat menakutkan pasien. Pasien seringkali tidak bangun lagi
setelah aliran listrik dialirkan ke tubuhnya dan mengakibatkan ketidaksadaran
sementara, serta seringkali menderita kerancuan pikiran dan hilangnya ingatan
setelah itu. Adakalanya, intensitas kekejangan otot yang menyertai serangan
otak mengakibatkan berbagai cacat fisik (Durand, 2007).
Pada terapi biologis lainnya
seperti pembedahan bagian otak Moniz (1935, dalam Davison, et al., 1994)
memperkenalkan prefrontal lobotomy, yaitu proses operasi primitif dengan cara
membuang “stone of madness” atau disebut dengan batu gila yang dianggap
menjadi penyebab perilaku yang terganggu. Menurut Moniz, cara ini cukup
berhasil dalam proses penyembuhan yang dilakukannya, khususnya pada penderita
yang berperilaku kasar. Akan tetapi, pada tahun 1950-an cara ini ditinggalkan
karena menyebabkan penderita kehilangan kemampuan kognitifnya, otak tumpul,
tidak bergairah, bahkan meninggal.
2.
Terapi
Psikososial
Gejala-gejala gangguan
skizofrenia yang kronik mengakibatkan situasi pengobatan di dalam maupun di
luar Rumah Sakit Jiwa (RSJ) menjadi monoton dan menjemukan. Secara historis,
sejumlah penanganan psikososial telah diberikan pada pasien skizofrenia, yang
mencerminkan adanya keyakinan bahwa gangguan ini merupakan akibat masalah
adaptasi terhadap dunia karena berbagai pengalaman yang dialami di usia dini.
Pada terapi psikosial terdapat dua bagian yaitu terapi kelompok dan terapi
keluarga (Durand, 2007).
Terapi kelompok merupakan salah satu
jenis terapi humanistik. Pada terapi ini, beberapa klien berkumpul dan saling
berkomunikasi dan terapist berperan sebagai fasilitator dan sebagai pemberi
arah di dalamnya. Para peserta terapi saling memberikan feedback tentang
pikiran dan perasaan yang dialami. Peserta diposisikan pada situasi sosial yang
mendorong peserta untuk berkomunikasi, sehingga dapat memperkaya pengalaman
peserta dalam kemampuan berkomunikasi (Durand, 2007).
Pada terapi keluarga
merupakan suatu bentuk khusus dari terapi kelompok. Terapi ini digunakan untuk
penderita yang telah keluar dari rumah sakit jiwa dan tinggal bersama
keluarganya. Keluarga berusaha untuk menghindari ungkapan-ungkapan emosi yang
bisa mengakibatkan penyakit penderita kambuh kembali.
Dalam hal ini, keluarga
diberi informasi tentang cara-cara untuk mengekspresikan perasaan-perasaan,
baik yang positif maupun yang negatif secara konstruktif dan jelas, dan untuk
memecahkan setiap persoalan secara bersama-sama. Keluarga diberi pengetahuan
tentang keadaan penderita dan cara-cara untuk menghadapinya. Dari beberapa
penelitian, seperti yang dilakukan oleh Fallon (Davison, et al., 1994; Rathus,
et al., 1991) ternyata campur tangan keluarga sangat membantu dalam proses
penyembuhan, atau sekurang-kurangnya mencegah kambuhnya penyakit penderita,
dibandingkan dengan terapi-terapi secara individual.
2.9
Pencegahan
Skizofrenia
Meskipun tidak ada
tindakan pencegahan yang memiliki tingkat keberhasilan 100%, namun kemungkinan
morbiditas dan kambuhnya penyakit ini bisa dikurangi dengan menghindari
penyalahgunaan narkoba. Pilih metode yang sesuai untuk menghilangkan stres,
menjaga pola pikir positif, dan luangkan waktu istirahat yang cukup untuk
membantu menjaga kesehatan mental (Hospital authority, 2016).
2.10
Komplikasi Skizofrenia
1.
Gangguan jiwa semakin berat
2.
Gangguan organ (fungsi
tubuh)
a.
Sindroma dispepsia
b.
Mudah terinfeksi dan sulit
mengatasi infeksi
c.
Dekompensasi jantung
d.
Diabetes mellitus
2.11
Prognosis Skizofrenia
Prognosis
skizofrenia bergantung pada :
1. Onset
(usia pasien saat pertama kali mengalami keluhan) : makin muda usia,prognosis
akan semakin buruk
2. Tipe
skizofrenia : skizofrenia akut dan katatonik lebih baik prognosisnya
3. Ada
tidaknya faktor herediter : jika terdapat, prognosis akan cenderung lebih buruk
4. Topologi
kepribadian pre skizofrenia : introvert prognosisnya lebih buruk
5. Ada
atau tidaknya faktor pencetus (stressor jelas) : jika diketahui, prognosis akan
lebih baik
6. Keadaan
sosial ekonomi : semakin rendah maka prognosis semakin buruk
7. Cepat,
tepat, dan teraturnya penatalaksanaan skizofrenia
8. Dukungan
dan bantuan dari orang di sekitarnya

Komentar
Posting Komentar