kejang demam
BAB 1
PENDAHULUAN
Demam
merupakan keadaan yang sering ditemui sehari-hari dalam kehidupan terutama anak
yang tubuhnya masih rentan terhadap penyakit. Demam ditandai dengan
meningkatnya suhu diatas ambang normal.
Peningkatan suhu tubuh dapat digolongkan menjadi dua yaitu peningkatan
suhu yang tergolong normal (bersifat fisiologis) dan peningkatan suhu yang
abnormal (patologis).[1]
Ada
hal-hal yang harus mendapat perhatian khusus sehubungan dengan demam pada anak
dimasa tumbuh kembangnya yaitu anak dengan kejang demam. Anak yang kejang demam
merupakan masalah penting yang harus diketahui untuk melakukan tindakan
yang tepat jika terjadi, agar tidak
membawa dampak yang serius. [1]
Kejang
demam yaitu kejang yang timbul pada waktu demam yang tidak disebabkan oleh
proses di dalam kepala (otak : seperti meningitis atau radang selaput otak,
ensifilitis atau radang otak) tetapi diluar kepala misalnya karena adanya
infeksi disaluran pernapasan, telinga atau infeksi disaluran pencernaan.
Biasanya dialami anak usia 6 bulan sampai 5 tahun. [1]
Penyebab
kejang demam hingga kini belum diketahui dengan pasti. WHO memperkirakan pada
tahun 2005 terdapat ≥ 21,65 juta penderita kejang demam dan lebih dari 216 ribu
diantaranya meninggal. Insiden terjadinya kejang demam diperkirakan mencapai
4-5% dari jumlah penduduk di Amerika Serikat, Amerika Selatan, dan Eropa Barat.
Namun di Asia kejadian kejang lebih tinggi seperti di Jepang dilaporkan antara
6-9% kejadian kejang demam, di India yaitu 5-10% dan di Guam adalah 14%. Angka
kejadian kejang demam di Indonesia dalam jumlah persentase yang cukup seimbang
dengan negara lain. Kejang dilaporkan mencapai 2-4% dari tahun 2005-2006. [1]
BAB
2
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1. Definisi Kejang Demam
Kejang
demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada anak berumur 6 bulan sampai 5
tahun yang mengalami kenaikan suhu tubuh (suhu diatas 38oC dengan
metode pengukuran suhu apapun) yang tidak disebabkan oleh proses intrakranial.
[3]
2.2. Etiologi Kejang Demam
Penyebab
kejang demam hingga kini belum diketahui dengan pasti. Menurut IDAI pada tahun
2013, penyebab terjadinya kejang demam antara lain obat-obatan,
ketidakseimbangan kimiawi seperti hiperkalemia, hipoglikemia dan asidosis,
demam, dan patologis otak. Selain penyebab kejang demam diantarainfeksi saluran
pernapasan atas adapun penyakit yang menyebabkan kejang demam diantaranya
diare, demam berdarah dangue, demam tifoid dan paratifoid, dispepsia,
hipertensi esensial, cidera intrakranial, ISPA. [1]
2.3. Epidemiologi Kejang Demam
Kejang
demam terjadi pada 2-5% anak berumur 6 bulan – 5 tahun. WHO memperkirakan pada
tahun 2005 terdapat ≥ 21,65 juta penderita kejang demam dan lebih dari 216 ribu
diantaranya meninggal. Insiden terjadinya kejang demam diperkirakan mencapai
4-5% dari jumlah penduduk di Amerika Serikat, Amerika Selatan, dan Eropa Barat.
Namun di Asia kejadian kejang lebih tinggi seperti di Jepang dilaporkan antara
6-9% kejadian kejang demam, di India yaitu 5-10% dan di Guam adalah 14%. Angka
kejadian kejang demam di Indonesia dalam jumlah persentase yang cukup seimbang
dengan negara lain. Kejang dilaporkan mencapai 2-4% dari tahun 2005-2006. [4]
2.4. Patofisiologi Kejang Demam
Kejang
merupakan manifestasi klinik akibat terjadinya pelepasan muatan listrik yang
berlebihan di sel neuron otak karena gangguan fungsi pada neuron tersesbut baik
berupa fisiologi, biokimiawi, maupun anatomi. [5]
Patofisiologi
kejang demam secara pasti belum diketahui, diperkirakan bahwa pada keadaan
demam terjadi peningkatan reaksi kimia tubuh. Dengan demikian reaksi-reaksi
oksidasi terjadi lebih cepat dan akibatnya oksigen akan lebih cepat habis,
terjadinya keadaan hipoksia. Transport aktif yang memerlukan ATP terganggu,
sehingga Na intrasel dan K ekstrasel meningkat yang akan menyebabkan potensial
membran cenderung turun atau kepekaan sel syaraf meningkat. [5]
Pada
saat kejang demam akan timbul kenaikan konsumsi energi di otak, jantung, otot,
dan terjadi gangguan pusat pengatur suhu. Demam akan menyebabkan kejang
bertambah lama, sehingga kerusakan otak semakin bertambah. Pada kejang yang
lama akan terjadi perubahan sistemik berupa hipotensi arterial, hiperpireksia
sekunder akibat aktifitas motorik dan hiperglikemia. Semua hal ini akan
mengakibatkan iskemi neuron karena kegagalan metabolisme di otak. [5]
Demam
dapat menimbulkan kejang melalui mekanisme sebagai berikut :
a.
Demam
dapat menurunkan nilai ambang kejang pada sel-sel yang belum matang atau
imature.
b.Timbul
dehidrasi sehingga terjadi gangguan elektrolit yang menyebabkan gangguan
permeabilitas membran sel.
c.
Metabolisme basal meningkat, sehingga
terjadi timbunan asam laktat dan CO2 yang akan merusak neuron.
d.
Demam meningkatkan Cerebral Blood Flow(CBF) serta meningkatkan kebutuhan oksigen dan
glukosa, sehingga menyebabkan gangguan pengaliran ion-ion keluar masuk sel.
Kejang demam yang berlangsung singkat pada
umumnnya tidak akan meninggalkan gejala sisa. Pada kejang demam yang lama
(lebih dari 15 menit) biasanya diikuti dengan apneu, hipoksemia, hiperkapnea,
hipoksi arterial, dan selanjutnya menyebabkan metabolisme otak meningkat.
Rangkaian kejadian diatas menyebabkan gangguan peredaran darah di otak,
sehingga terjadi hipoksemia dan edema otak, pada akhirnya terjadi kerusakan sel
neuron. [5]
2.5. Gejala Klinis Kejang Demam
a. Kejang demam sederhana: berlangsung singkat
(kurang dari 15 menit), bentuk kejang umum (tonik dan atau klonik), serta tidak
berulang dalam waktu 24 jam.
b.
Kejang demam kompleks:
- Kejang lama (>15 menit)
-
Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang
parsial
-
Berulang atau lebih dari 1 kali dalam waktu 24 jam[3]
2.6. Diagnosis Kejang Demam
Diagnosis
kejang demam ditegakkan berdasarkan anamnesis, gejala klinis dan pemeriksaan
penunjang.
1.
Anamnesis
-
Adanya kejang, jenis kejang kesadaran,
lama kejang, suhu sebelum atau saat kejang, frekuensi, interval, penyebab demam
diluar SSP
-
Riwayat perkembangan dan neurologis sebelum
dan setelah kejang, kejang demam dalam keluarga, epilepsi dalam keluarga.
-
Riwayat kejang demam sebelumnya
2.
Pemeriksaan fisik
-
Nilai kesadaran
-
Suhu tubuh
-
Tanda rangsang meningeal
-
Tanda peningkatan tekanan intra kranial
-
Tanda infeksi di luar SSP
3.
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan
laboratorium tidak dikerjaan secara rutin pada kejang demam, tetapi dapat
dikerjakan untuk mengevaluasi sumber infeksi penyebab demam.
4. Pungsi
lumbal
Pemeriksaan cairan serebrospinal
dilakukan untuk menegakkan atau menyingkirkan kemungkinan meningitis.
5. Elektroensefalografi
(EEG)
Pemeriksaan EEG tidak diperlukan
untuk kejang demam, kecuali apabila bangkitan bersifat fokal.
6. Pencitraan
Pemeriksaan neuroimaging(CT Scan/MRI kepala) tidak rutin dilakukan pada anak
dengan kejang demam sederhana. Pemeriksaan tersebut dilakukan bila terdapat
indikasi seperti kelainan neurologis fokal yang menetap misalnya hemiparesis
atau paresis nervus kranialis. [3] [5]
2.7. Diagnosis Banding Kejang Demam
- Meningitis
- Ensefalitis
- Meningoensefalitis
- Epilepsi
- Ensefalomielitis
- Abses otak
- Kelainan organik lainnya dalam otak[5]
2.8. Penatalaksanaan Kejang Demam
Penanganan sebelum
dibawa ke rs adalah diazepam rektal 5 mg
untuk anak dengan BB <12 kg dan 10 mg
untuk anak dengan BB >12 kg. Bila setelah pemberian diazepam rektal kejang belum berhenti, dapat diulangi dengan
cara dan dosis yang sama dengan interval waktu 5 menit. Bila setelah 2 kali
pemberian diazepam rektal masih tetap
kejang, dianjurkan untuk dibawa ke rs dan
diberikan diazepam intravena. Jika kejang masih berlanjut, tatalaksana
diberikan sesuai algoritme tatalaksana status epileptikus.
[3]
Antipiretik tetap
diberikan walaupun tidak menurangi resiko terjadinya kejang demam.
Paracetamol 10-15 mg/kgBB/kali diberikan
4-6 jam. Dosis ibuprofen 5-10 mg/kgBB/kali 3-4 kali sehari. [3]
2.9. Komplikasi Kejang Demam
-
Perkembangan mental dan neurologis umumnya normal
-
Gangguan intelektual dan belajar jarang terjadi pada
kejang demam sederhana
- Resiko reterdasi mental 5 kali lebih besar
pada kejang demam yang diikuti berulangnya
kejang tanpa demam
- Kejang demam akan
berulang kembali pada beberapa kasus
- Dapat menyebabkan
epilepsi[3]
2.10.
Prognosis Kejang Demam
1.
Kecacatan atau kelainan neurologis
Prognosis
kejang demam secara umum sangat baik. Kejadian kecacatan sebagai komplikasi
kejang demam tidak pernah dilaporkan. [3]
2.
Kemungkinan berulangnya kejang demam
Faktor
resiko berulangnya kejang demam adalah :
-
Riwayat kejang demam atau epilepsi dalam
keluarga
-
Usia kurang dari 12 bulan
-
Suhu tubuh kurang dari 39oC
saat kejang
-
Interval waktu yang singkat antara
awitan demam dengan terjadinya kejang
-
Apabila kejang demam pertama merupakan
kejang demam kompleks[3]
3.
Faktor resiko terjadinya epilepsi
Faktor
menjadi epilepsi dikemudian hari adalah :
-
Terdapat kelainan neurologis atau
perkembangan yang jelas sebelum kejang demam pertama
-
Kejang demam kompleks
-
Riwayat epilepsi pada orangtua atau
saudara kandung
-
Kejang demam sederhana yang berulang 4
episode atau lebih dalam satu tahun[3]
4.
Kematian
Kematian
langsung karena kejang demam tidak pernah dilaporkan. Angka kematian pada
kelompok anak yang mengalami kejang demam sederhana dengan perkembangan normal
dilaporkan sama dengan populasi umum[3]
2.11. Definisi Epilepsy
Epilepsy
didefinisikan sebagai serangan paroksimal berulang tanpa provokasi dengan
interval lebih dari 24 jam tanpa penyebab yang jelas.[6]
2.12. Klasifikasi Epilepsy
Pada
tahun 1981, ILAE membagi kejang
menjadi kajang umum dan fokal (parsial) berdasarkan tipe bangkitan (yang
diobservasi secara klinis maupun hasil pemeriksaan elektrofisiologi). ILAE
membagi kejang membagi kejang umum dan kejang parsial dengan definisi sebagai
berikut,
·
Kejang umum : gejala awal kejang
dan/atau gambara EEG menunjukkan keterlibatan kedua hemisfer.
·
Kejnag parsial (fokal) : gejala awal
kejang dan/atau kejang EEG menunjukkan aktivasi pada neuron terbatas pada satu
hemisfer saja.[6]
2.13. Etiologi Epilepsy
Manisfestasi
klinis epilepsy disebabkan oleh lesi di korteks serebri yang mendasarinya. Lesi
di otak pada umumnya telah ada beberapa bulan-tahun sebelum gejala epilepsy
pertama muncul,seperti hipoksia perinatal/asfiksia atau perdarahan
intraserebral.namun pada umumnya etiologi epilepsy tidak diketahui pasti.
1. Genetic
epilepsy syndrome adalah epilepsy yang diketahui
/diduga disebabkan oleh kelainan genetic dengan kejang sebagai manifestasi
utama.
2. Structural/metabolic
syndrome adalah adanya kelainan structural/metabolic
yang menyababkan seseorang berisiko mengalami epilepsy, contohnya : epilepsy
setelah mengalami stroke,trauma, infeksi SSP, atau adanya kelainan genetic
seperti tuberculosis dengan kelainan structural otak (tuber).[6]
2.14.
Diagnosis
Epilepsy
Pertama
yang harus ditentukan apakah serangan yang terjadi merupakan serangan kejang
atau bukan.
Klinis
|
Kejang
|
Bukan
kejang
|
Awitan
|
Tiba-tiba
|
Gradual
|
Kesadaran
|
Terganggu
(pada kejang fokal sederhana kesadaran tidak terganggu)
|
Tidak
terganggu
|
Gerakan
ekstremitas
|
Sinkron
|
Asinkron
|
Sianosis
|
Sering
|
Jarang
|
Gerakan
abnormal mata
|
Selalu
|
Jarang
|
Serangan
Khas
|
Sering
|
jarang
|
Lama
|
Detik-menit
|
Beberapa
menit
|
Dapat
diprovokasi
|
Jarang
|
Hampir
selalu
|
Abnormalitas
EEG (iktal)
|
Selalu
|
Tidak
pernah
|
·
Pemeriksaan penunjang dalam diagnosis
epilepsy
-
Elekroensefalografi (EEG):
Rekam
EEG dilakukan selama 30 menit terdiri dari rekaman tidur dan bangun tanpa
menggunkan obat premedikasi.. pemeriksaan EEG dapat diulang bila pada
pemeriksaan pertama hasil tidak jelas.
-
Pencitraan :
Magnetic resonance imaging
(MRI) merupakan pencitraan pilihan untuk mendeteksi kelainan yang mendasari
epilepsy.[6]
·
Diagnosis banding :
Epilepsy harus dibedakan dengan kejang non-epileptik
dan serangan paroksimal bukan kejang. Kejang non epileptic adalah kejang
demam,kejang reflex,kejang anoksik,kejang akibat withdrawal alkohol,kejang yang dicetuskan obat-obatan atau bahan
kimiawi lainnya, kejang pasca trauma, dan kejang akibat kelainan metabolic atau
elektrolit akut.[6]
Serangan
paroksimal non epileptic
Perubahan atau
penurunan kesadaran
Breath-holding
spells
Sinkop
Gerakan menyerupai
kejang
Tic/sindrom
tourette
Hiperekpleksia/exaggerated startle
Spasmus nutans
Pseudoseizures
Benign sleep myoclonus
Perubahan prilaku
Night
terrors
Sammambulisme
Melamun/day dreaming
Fenomena sensorik
atau autonom
Migren
Vertigo paroksimal
Cyclic vomiting
Hiperventilasi
|
2.15.
Penatalaksanaan Epilepsy
Pilihan obat lini pertama
Nama
obat
|
Indikasi
|
Kontraindikasi
|
Dosis
|
Fenobarbital
|
Epilepsy
umum
Epilepsy
fokal
|
Absans
|
4-6
mg/kg/hari dibagi 2 dosis
|
Fenitoin
|
Epilepsy
fokal
Epilepsy
umum
|
Mioklonik
absans
|
5-7
mg/kg/hari dibagi 2 dosis
|
Asam
Vaproat
|
Epilepsy
umum
Epilepsy
fokal
Absans
Mioklonik
|
-
|
15-40
mg/kg/hari dibagi 2 dosis
Target
awal : 15-25 mg/kg/hari
|
Karbamazepin
|
Epilepsy
fokal
|
Mioklonik
absans
|
10-3-
mgg/kg/hari dibagi 2-3 dosis 5-10 mg/kg/hari dinaikkan setiap 5-7 hari, 5
mg/kg/hari
target awal : 15-20 mg/kg/hari. |
DAFTAR
PUSTAKA
1. Marwan, Roly. 2017. Faktor yang Berhubungan
dengan Penanganan Pertama Kejadian Kejang Demam pada Anak Usia 6 Bulan-5 Tahun
di Puskesmas. Available from: https://www.journal.umbjm.ac.id/index.php/download/pdf
[Accessed 30 Maret 2018]
2. Kliegmen RM, Behrmman RE, Stanton BF, Schor NF,
Geme III JWS.Nelson Textbook of Peditric,
20th Edition, Sounder Elevier Inc. 2016
3. Ismael, Sofyan., Pusponegoro HD., dkk. Rekomendasi
Penatalaksanaan Kejang Demam.
Jakarta: IDAI, 2016
Jakarta: IDAI, 2016
4. Fuadi., dkk. 2010. Faktor Risiko Bangkitan Kejang
Demam pada Anak. Available from:
https:/www.ejournal3.undip.ac.id/medico/download/pdf [Accessed 30 Maret 2018]
5. Pudjadi H. Antonius,Badriul Hegar,dkk.Pedoman Pelayanan Medis. Jakarta: IDAI.
2009
6. Irwan
M, Setyo handyastuti, Nelly Amalia,dkk.epilepsi
pada anak. Jakarta : IDAI. 2016
Komentar
Posting Komentar