GANGGUAN BELAJAR



DEFINISI GANGGUAN BELAJAR
            Gangguan belajar adalah defisit pada anak dan remaja di dalam mencapai ketrampilan membaca, menulis, berbicara, penggunaan pendengaran, memberikan alasan, atau matematika yang diharapkan, dibandingkan dengan anak lain berusia sama dan dengan kapasitas intelektual yang sama. gangguan belajar lazim ditemukan mengenai sedikitnya 5 persen anak usia sekolah. Edisi ke empat Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM-IV) memperkenalkan istilah gangguan belajar, yang secara formal disebut gangguan ketrampilan akademik. semua diagnosis gangguan belajar saat ini mensyaratkan bahwa pencapaian anak dalam gangguan belajar tertentu secara signifikan lebih rendah dari yang diharapkan, dan bahwa gangguan belajar mengganggu pencapaian akademik atau aktivitas kehidupan sehari-hari.
            Revisi teks DSM-IV (DSM-IV- TR)   mencakup empat kategori diagnostic dalam bab gangguan belajar yang tidak tergolongkan. Anak dengan gangguan belajar seperti gangguan membaca, contohnya, dapat diidentifikasi dengan dua cara: anak yang buruk dalam membaca diabndingkan dengan sebagian besar anak lain yang berusia sama dan anak yang pencapaiannya dalam membaca ecara signifikan lebih rendah daripada yang diperkirakan dari keseluruhan intelligence quotient (IQ) yang di perkirakan. kriteria DSM-IV-TR untuk gangguan belajar mengharuskan adanya ketimpangan antara pencapaian dengan IQ dasar serta pencapaian yang buruk di dalam membaca.
GANGGUAN MEMBACA
            Gangguan membaca (dahulu disebut disleksia) didefinisikan sebagai pencapaian membaca dibawah tingkat yang diharapkan untuk usia, pendidikan dan intelegensia anak, hendaya ini secara signifikan mengganggu keberhasilan akademik atau aktivitas harian yang melibatkan membaca. gangguan ini ditandai dengan gangguan kemampuan mengenali kata, membaca dengan lambat dan tidak akurat, serta pemahaman yang buruk. Di samping itu, anak dengan gangguan defisit atensi/hiperaktivitas (ADHD)memiliki resiko tinggi gangguan membaca.
EPIDEMIOLOGI
suatu perkiraan sebesar 4 persen anak usia sekolah di Amerika Serikat memiliki gangguan membaca, studi prevalensi menemukan angka berkisar antara 2 dan 8 persen. Anak laki-laki tiga hingga empat kali lebih banyak dibandingkan anak perempuan, dilaporkan memiliki ketidakmampuan membaca pada sampel yang dirujuk secara klinis. Studi epidemiologis yang teliti menemukan anagka yang hampir sama antara anak laki-laki dan perempuan yang memiliki gangguan membaca mungkin lebih sering dirujuk untuk evaluasi dibandingkan anak perempuan karena masalah perilaku yang sering terkait.


ETIOLOGI
            Tidak ada satu etiologi tunggal satu pun yang diidentifikasi sebagai penyebab gangguan membaca. Riset terkini mengenai gangguan membaca menunjukan bahwa pada sebagian besar kasus, anak bergulat dalam membaca memiliki defisit ketrampilan memroses fonologis. Anak-anak ini tidak mampu mengidentifikasikan bagian dari kata secara efektif yang menunjukan bunyi spesifik, yang menimbulkan kesulitan berat di dalam mengenali dan menyebut kata. Anak-anak dengan gangguan membaca ditemukan lebih lambat dalam menamai huruf dan angka, bahkan saat dikontrol untuk IQ. Dengan demikian, defisit utama pada anak dengn gangguan membaca terletak di dalam domain penggunaan bahasa.
            Banyak studi menyokong hipotesis bahwa faktor genetic mamainkan peran utama pada adanya gangguan membaca. Studi menunjukan bahwa 35 hingga 40 persen kerabat derajat pertma anak dengan gangguan membaca juga memiliki derajat tertentu hendaya membaca. Beberapa studi terkini mengesankan bahw pemahaman fonologis (yi., kemampuan memahami bunyi dan mengeluarkan kata-kata) terkait dengan kromosom 6. Lebih jauh lagi. Kemampuan identifikasi kata tunggal terkait dengan kromosom 15.
            Insiden gangguan membaca lebih tinggi dari rata-rata terdapat pada anak dengan intelegensia normal mengalami palsi serebral. Insiden gangguan membaca yang sedikit meningkat terdapat dia anak-anak yang mengalami epilepsy. Komplikasi selama kehamilan, kesulitan prenatal dan perinataltermasuk prematuritas dan berat lahir rendah lazim ada di dalam riwayat anak dengan gangguan membaca. Anak dengan lesi otak pasca lahir di lobus oksipital kiri, yang menimbulkan kebutaan lapangan pandang, dapat memiliki gangguan membca sekunder, demikian juga dengan anak dengan lesi di splenium korpus kalosum yang menyekat transmisi informasi visual dari hemisfer kanan yang intak ke area bahasa di hemisfer kiri.
GAMBARAN KLINIS                  
            Anak yang mengalami gangguan membaca biasanya dapat di identifikasi pada usia 7 tahun (kelas 2). Kesulitan membaca dampat tampak jelas pada anak di dalam kelas saat ketrampilan membaca diharapkan diperoleh pada kelas satu. Anak kadang-kadang dapat mengkompensasi gangguan membaca pada tingkat dasar awal dengan menggunakan memori dan kesimpulan, terutama ketika gangguan ini disertai dngan itelegensi yang tinggi. Pada keadaan seperti ini gangguan bisa tidak terlihat nyata sampai usia 9 tahun (kelas 4) atau lebih. Masalah-masalah yang erkait mencakup kesulitan berbahas, seringditunjukan dengan  diskriminasi dan kesulitan merangkai kata-kata dengan sesuai.
            Sebagian besar anak dengan gangguan membaca serta menulis. Banyak anak dengan gangguan ini yang tidak mendapatkan pendidikan untuk memperbaikinya, memiliki rasa maluatau terhina karena kegagalan mereka yang terus menerus serta kemudian frustasi. Anak yang lebih tua cenderung marah dan depresi, dan mereka menunjukan harga diri yang buruk.
DIAGNOSIS
            Gangguan membaca didiagnosis jika pencapaian membaca seorang anak secara signifikan di bawah tingkat yang diharapkan pada anak dengan usia dan kapasitas intelektual yang sama. Ciri diagnosis yang khas mencakup kesulitan mengingat kembali, membangkitkan dan merangkai huruf dan kata yang tercetak memroses konstruksi gramatis yang canggih dan membuat kesimpulan.
DIAGNOSIS BANDING
            Gangguan membaca sering disertai gangguan lain seperti gangguan bahasa ekspresif, gangguan ekspresi tulisan dan ADHD. Studi terkini mennjukan bahwa anakdengan gangguan membaca secara terus-menerus menunjukan kesulitan dengan kemampuan bahasa, sedangkan anak dengan ADHD tidak demikian. Defisit di dalam bahasa ekspresif dan diskriminasi bicara yang terdapat di dalam gangguan membaca dapat cukup berat sehingga memerlukan diagnosis tambahan gangguan bahasa ekspresif atau gangguan bahasa campuran reseptif-ekspresif. Gangguan membaca harus dibedakan dengan sindrom dengan sindrom retardasi mentalyaitu membaca dan juga ketrampilan lain berada dibawah tingkt pencapaian yang diharapkan untuk usia kronologis seorang anak. Tes intelektual membantu membedakan defisit global dengan kesulitan membca yang lebih spesifik. Gangguan mendengar dan melihat harus disingkirkan menggunakan uji penapisan.
TERAPI
            Banyak program terapi remedial yang efektif dimulai dengan mengajari anak tersebut untuk membuat hubungan yang akurat antara huruf dan bunyi. Setelah ketrampilan itu dikuasai terapi remedial dapat menargetkan komponen membaca yang lebih besarseperti suku kata dan kata. Fokus pasti setiap program membaca hanya dapat ditentukan setelah dilakukan penilaian akurat mengenai defisit spesifik seorang anak serta kelemahannya. strategi koping yang positif mencakup kelompok membaca kecil dan terstruktur yang memberikan perhatian indivisual sehingga membuat anak tersebut lebih mudah unruk meminta bantuan.
            Program intruksi membaca dimulai dengan memusatkan pada setiap huruf dan bunyi kemudian meningkatkan ke penguasaan inti fonetik sederhana, diikuti dengan menyatukan unit-unit ini menjadi kata dan kalimat. program terapi remedial membaca lainnya seperti program Merill dan SRA Basic Reading Program, dimulai dengan memperkenalkan keseluruhan kata terlebih dahulu, kemdian mengajari anak bagaimana memecahnya dan  mengenali bunyi susku kata serta setiap huruf di dalam kata tersebut. Pendekatan lain seperti Bridge Reading Program, mengajari anak dengan gangguan membaca untuk mengenali keseluruhan kata melalui penggunaan bantuan visual dan meminta proses “membunyikannya”. Metode Ferald mengguanakan pendekatan multisensorikyang mengombinasikan antara mengajari keseluruhan kata dengan teknik melacak sehingga anak tersebut memiliki stimulasi kinestetik sambil belajar membaca kaya-kata.
GANGGUAN MATEMATIKA
            Anak dengan gangguan matematika memiliki kesulitan mempelajari dan mengingat angka, tidak dapat mengingat fakta dasar mengenai angka, dan lambat serta tidak akurat di dalam menghitung. Pencapaian yang buruk dalam empat kelomok ketrampilan telah diidentifikasi di dalam gangguan matematika, ketrampilan linguistik (yang terkait dengan pemahaman dengan istilah matematis dan mengubah soal tertulis menjadi symbol matematika), ketrampilan persepsi (kemampuan mengenali dan memahami symbol dan mengurutkan serangkaian kata), ketramplian matematis (penambahan,pengurangan, perkalian, pembagian dasar dan serangkaian operasi matematika dasar) serta ketrampilan atensional (menyalin angka dengan tepat seta mengamati symbol-simbol operasional dengan benar )
EPIDEMIOLOGI
            Prevalensi gangguan matematika sendiri diperkirakan terjadi dalam kira-kira 1 persen anak-anak usia sekolah, yaitu kira-kira satu dari lima anak dengan gangguan belajar. Studi epidemiologi menunjukan bahwa hingga 6 persen anak-anak usia sekolah memiliki kesulitan dalam matematika. Gangguanmatematika dapat terjadi dengan frekuensi yang lebih tinggi
ETIOLOGI
            Timbulnya gangguan matematika serupa dengan gangguan belajar lain, cenderung disebabkan setidaknya sebagian besar oleh faktor genetic. Suatu teori awal mengajukan defisit neurologis di hemisfer serebri kanan, terutama pada area lobus oksipitalis. Regio ini bertanggung jawab untuk memroses stimulus visuopasial yang selanjutnya  bertanggung jawab untuk ketrampilan matematis.
            Saat ini penyebab dianggap multifactor sehingga faktor kematangan, kognitif, emosional, pendidikan, dan sosioekonomik, turut berperan di dalam berbagai derajat dan kombinasi untuk gangguan matematika.
GAMBARAN KLINIS
            Anak dengan gangguan matematika yang lazim ditemukan mencakupkesulitan dengan berbagai komponen matematika, seperti mempelajari nama angka, mengingat tanada untuk penambahan dan pengurangan, mempelajari tabel perkalian, menerjemahkan soal dalam kata menjadi perhitungan dan melakukan perhitungan dengan kecepatan yang diharapkan.
            Gangguan matematika sering terdapat bersamaan dengan gangguan lain dalam hal membaca, tulisan ekspresif, koordinasi, dan bahasa ekspresif serta reseptif. Masalah dalam mengeja, defisit atensi atau memori, serta masalah emosional dan perilaku dapat ditemukan. Anak kelas awal pertama seringkali menunjukan gangguan belajar lain dan hrus diperiksa adanya gangguan matematika. Anak dengan palsi serebral dapat memiliki gangguan matemtika dengan intelegensi keseluruhan yang normal.
            Hubungan antara gangguan matematika dan gangguan komunikasi serta  gangguan belajar lainnya tidak jelas. Meskipun anak dengan campuran bahasa reseptif-ekspresif serta gangguan bahasa ekspresif tidak selalu mengalami gangguan matematika, keadaan tersebut seringterdapat bersamaan karena terkait dengan hendaya di dlam proses mengurai dan membuat kode.
DIAGNOSIS
            Diagnosis gangguan matematika ditegakkan ketika ketrampilan matematika seorang nak jatuh secra signifikan di bawah tingkat yang diharapkan untuk usia anak, kemampuanintelektual, dan pendidikannya. Diagnosis pasti dapat ditegakkan hanya setelah anak tersebut menjalani tes aritmatika standar yang diberikan secara individual serta nilainya secara nyata berada dibawah tingkat yang diharapkan dalam hal kapasitas intelektual dan sekolahan anak seperti diukur melalui tes intelegensi standar. Gangguan perkembangan pervasive dan retardasi mental juga harus disingkirkan sebelum menyakinkan diagnosis gangguan matematika.
DIAGNOSIS BANDING
            Gangguan matematika harus dibedakan dengan penyebab global gangguan fungsi seperti sindrom retardasi mental. Kesulitan aritmatika di dalam retardasi mental disertai dengan hendaya menyeluruh di dalam keseluruhan fungsi intelektual. pada kasus retardasi mental ringan yang tidak biasa, ketrampilan aritmatika dapat secra sigifikan berada dibawah tingkat yang diharapkan, berdasarkan derajat pendidikan dan tingkat aretardasi mental orang tersebut. pada kasus seperti itu diagnosis tambahan gangguan matematika harus ditegakan, terapi kesulitan terutama dapat membantu bagi kesempatan anak diperkerjakan di masa dewasanya. Sekolah yang tidak adekuatsering dapat memengaruhi kinerja aritmatika yang buruk pada uji aritmatika standar. Gangguan tingkah laku atau ADHD dapat terjadi bersama dengan gangguan matematika pada kasus ini kedua diagnosis harus ditegakkan.
TERAPI
            Saat ini terapi yang aling efektif untuk gangguan matematika menggabungkan antara mengajarkan konsep matematika dengan praktik terus menerus di dalam menyelesaikan soal matematika. Defisit ketrampilan soaial dapat turut berperan di dalam keengganan anak untuk meminta bantuan sehingga anak yang diidentifikasi dengan gangguan matematika bisa mendapatkan keuntungan dari mendapatkan ketrampilan menyelesaikan masalah di dalam lingkungan sosial juga di dalam matematika.
GANGGUAN EKSPRESI TERTULIS
            Gangguan ekspresi tulisan ditandai dengan keterampilan menulis yang secara signifikan di bawah tingkat yang diharapkan untuk usia dan kapasitas intelektual anak. Kesulitan ini mengganggu kinerja akademik dan tuntutan untuk menulis dalam kehidupan sehari-hari. Banyak komponen gangguan ekspresi tertulis mencakup mengeja yang buruk, kesalahan tatabahasa dan tanda baca, serta tulisan tangan yang buruk.
EPIDEMIOLOGI
            Prevalensi gangguan ekspresi tertulis saja belum dipelajari, tetapi seperti gangguan membaca, diperkirakan terjadi pada kira-kira 4 persen anak usia sekolah. Diperkirakan bahwa rasio gender pada gangguan ekspresi tertulis serupa dengan gangguan membaca, terjadi sekitar tiga kali lebih banyak pada laki-laki. Gangguan ekspresi tertulis sering terjadi bersama dengan gangguan membaca, tetapi tidak selalu.
ETIOLOGI
            Penyebab gangguan ekspresi tertulis diyakini serupa dengan gangguan membaca-yaitu defisit di dalam penggunaan komponen bahasa yang terkait dengan bunyi huruf. Tampaknya, faktor gentetik memainkan peranan di dalam timbulnya gangguan ekspresi tertulis. Predisposisi herediter terhadap gangguan ini disokong dengan temuan bahwa sebagian besar anak dengan gangguan ekspresi tertulis memiliki kerabat derajat pertama dengan gangguan ini. Anak dengan rentang perhatian yang terbatas dan sangat mudah teralih perhatiannya dapat merasakan bahwa menulis merupakan tugas yang melelahkan.
DIAGNOSIS
            Diagnosis gangguan ekspresi tertulis didasari pada kinerja anak yang buruk dalam menyusun teks tertulis, termasuk tulisan tangan dan gangguan kemampuan untuk mengeja serta meletakkan kata-kata berurutan dalam kalimat yang koheren, dibandingkan dengan sebagian besar anak yang berusia dan dengan kemampuan intelektual yang sama.
GAMBARAN KLINIS
            Anak dengan gangguan ekspresi tertulis memiliki kesulitan di awal sekolahnya di dalam mengeja kata-kata dan di dalam mengekspresikan pikirannya sesuai dengan norma tata bahasa yang sesuai usia. Gambaran lazim gangguan ekspresi tertulis ini mencakup kesalahan pengejaan, kesalahan tata bahasa, kesalahan tanda baca, penyusunan paragraf yang buruk, dan tulisan tangan yang buruk. Gambaran lain yang terkait pada gangguan ini mencakup penolakan atau keenganan untuk pergi ke sekolah dan melakukan pekerjaan rumah tertulis yang ditugaskan, kinerja akandemik yang buruk di area lain (cth., matematika), penghindaran umum terhadap pekerjaan sekolah, bolos, defisit atensi, dan gangguan tingkah laku. Banyak anak dengan gangguan ekspresi tertulis menjadi frustasi dan marah karena perasaan kekurangan dan kegagalan kinerja akademik. Pada kasus yang berat, gangguan depresif dapat timbul akibat semakin tumbuhnya rasa isolasi, asing, dan putus asa.


DIAGNOSIS BANDING
            Seseorang harus menentukan apakah gangguan lain seperti ADHD atau gangguan depresif membuat anak tidak dapat berkonsentrasi pada tugas tertulism tanpa adanya gangguan ekspresi tertulis itu sendiri. Jika keadaannya seperti ini, terapi untuk gangguan di atas seharusnya memperbaiki kinerja menulis seorang anak. Ganggguan ekspresi tertulis juga dapat terjadi bersama dengan berbagai gangguan belajar serta bahasa lainnya. Gangguan terkait yang lazim lainnya adalah gangguan membaca, gangguan campuran bahasa reseptif-ekspresif, gangguan bahasa ekspresif, gangguan matematika, gangguan koordinasi perkembangan, dan perilaku mengganggu serta gangguan defisit atensi (attention-deficit disorder).
TERAPI
            Terapi remedial untuk gangguan ekspresi tertulis mencakup praktik langsung mengeja dan menulis kalimat, serta mengkaji ulang aturan tata bahasa. Pemberian terapi menulis kreatif dan ekspresif yang intensif, berkelanjutan dan dirancang khusus secara individual dan satu-satu tamak meberi hasil yang baik.
GANGGUAN BELAJAR YANG TIDAK TERGOLONGKAN
            Gangguan belajar yang tidak tergolongkan adalah kategori baru di dalam DSM-IV-TR untuk gangguan yang tidak memenuhi kriteria gangguan belajar spesifik, tetapi menimbulkan hendaya dan mencerminkan kemampuan belajar di bawah tingkat yang diharapkan untuk intelegensim pendidikan, dan usia seseorang. Suatu contoh hendaya yang dapat ditempakan pada kategori ini adalah defisit keterampilan mengeja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEGAWATDARURATAN PSIKIATRI

PPOK Penyakit Paru Obstruktif Kronik

SPASMOFILIA