depresi
DEPRESI
1. Definisi:
Depresi adalah suatu gangguan mental dengan suasana
hati yang tertahan dan kehilangan minat dalam melakukan aktivitas,sehingga
terjadi penurunan kualitas hidup sehari-hari.
Gangguan
depresif adalah gangguan psikiatri yang menonjolkan mood sebagai
masalahnya, dengan berbagai gambaran klinis yakni gangguan episode depresif,
gangguan distimik, gangguan depresif mayor dan gangguan depresif unipolar
serta bipolar.
Gangguan
depresif merupakan gangguan medik serius menyangkut kerja otak, bukan sekedar
perasaan murung atau sedih dalam beberapa hari. Gangguan ini menetap selama
beberapa waktu dan mengganggu fungsi keseharian seseorang.
Gangguan
depresif masuk dalam kategori gangguan mood, merupakan periode
terganggunya aktivitas sehari-hari, yang ditandai dengan suasana perasaan
murung dan gejala lainnya termasuk perubahan pola tidur dan makan, perubahan
berat badan, gangguan konsentrasi, anhedonia (kehilangan minat apapun), lelah,
perasaan putusasa dan tak berdaya serta pikiran bunuh diri. Jika gangguan
depresif berjalan dalam waktu yang panjang (distimia) maka orang
tersebut dikesankan sebagai pemurung, pemalas, menarik diri dari pergaulan,
karena ia kehilangan minat hampir disemua aspek kehidupannya.
2. Etiologi:
Depresi disebabkan oleh kombinasi banyak faktor.
Adapun faktor biologis, factor bawaan atau keturunan, faktor yang berhubungan
dengan perkembangan seperti kehilangan orang tua sejak kecil, faktor
psikososial, dan faktor lingkungan, yang menjadi satu kesatuan mengakibatkan
depresi.
1)
Faktor biologis
Faktor
biologis yang dapat menyebabkan terjadinya depresi dapat dibagi menjadi dua hal
yaitu disregulasi biogenik amin dan disregulasi neuroendokrin. Abnormalitas
metabolit biogenik amin yang sering dijumpai pada depresi yaitu 5 hydroxy indoleacetic
acid (5HIAA), homovalinic acid (HVA), 3-methoxy
4-hydrophenylglycol
(MHPG),
sebagian besar penelitian melaporkan bahwa penderita gangguan depresi
menunjukkan berbagai macam abnormalitas metabolik biogenikamin pada darah, urin
dan cairan serebrospinal.
Keadaan
tersebut endukung hipotesis gangguan depresi berhubungan dengan disregulasi
biogenikamin. Dari biogenik amin, serotonin dan norepinefrin merupakan
neurotransmiter yang paling berperan dalam patofisiologi depresi.
Penurunan
regulasi reseptor beta adrenergic dan respon klinik antidepresan mungkin
merupakan peran langsung system noradrenergik dalam depresi. Bukti lain yang
juga melibatkan reseptor beta2-presinaptik pada depresi, telah mengaktifkan
reseptor yang
mengakibatkan
pengurangan jumlah pelepasan norepinephrin.
Reseptor
beta2-presinaptik juga terletak pada neuron serotonergik dan mengatur jumlah
pelepasan serotonin. Serotonin (5-hydroxytryptamine [5-HT])
neurotransmitter system menunjukan keterlibatan dalam patofisiologi gangguan
afektif, dan obat-obatan yang meningkatkan aktifitas serotonergik pada umumnya
memberi
efek antidepresan pada pasien . Selain itu , 5 - HT dan / atau metabolitnya,
5-HIAA, ditemukan rendah pada urin dan cairan serebrospinal pasien dengan
penyakit afektif. Hal ini juga
dibuktikan terdapat kadar 5-HT yang rendah pada otak korban bunuh diri
dibandingkan dengan kontrol. Selain itu , ada beberapa bukti bahwa terdapat
penurunan metabolit serotonin, 5 – hydroxyindole acetic acid(5-HIAA) dan
peningkatan jumlah reseptor serotnin postsinaptik 5-
hydroxytryptaminetype
2 (5HT2)
di korteks prefrontal pada kelompok bunuh diri.
Aktivitas
dopamin mungkin berkurang pada depresi. Penemuan subtipe baru reseptor dopamin
dan meningkatnya pengertian fungsi regulasi presinaptik dan pascasinaptik
dopamin memperkaya antara dopamin dan gangguan mood. Dua teori terbaru
tentang dopamin dan depresi adalah jalur dopamin mesolimbic mungkin
mengalami disfungsi pada depresi dan reseptor dopamin D1 mungkin hipoaktif pada
depresi.
2)
Faktor Psikososial
Peristiwa
kehidupan dengan stressful sering mendahului episode pertama, dibandingkan
episode berikutnya. Ada teori yang mengemukakan adanya stres sebelum episode
pertama menyebabkan perubahan biologi otak yang bertahan lama. Perubahan ini
menyebabkan perubahan berbagai neurotransmiter dan sistem sinyal intraneuron.
Termasuk hilangnya beberapa neuron dan penurunan kontak sinaps. Dampaknya,
seorang individu berisiko tinggi mengalami episode berulang gangguan mood,
sekalipun tanpa stressor dari luar.
Orang
dengan beberapa gangguan kepribadian seperti, obsesifkompulsif, histeris, dan
yang ada pada garis batasnya, mungkin memiliki resiko yang lebih tinggi untuk
terkena depresi dari pada orang dengan kepribadian antisosial atau paranoid.
Pada pengertian psikodinamik depresi dijelaskan oleh Sigmund Freud dan
dikembangkan oleh Karl Abraham yang diklasifikasikan dalam 4 teori:
(1) gangguan pada hubungan bayi dan ibu selama
fase oral (10-
18
bulan awal kehidupan) sehinga bisa terjadi depresi;
(2) depresi
dapat
dihubungkan dengan kehilangan objek secara nyata atau
imajinasi;
(3)
Introjeksi dari kehilangan objek adalah mekanisme
pertahanan
dari stress yang berhubungan dengan kehilangan objek
tersebut
(4)
karena kehilangan objek berkenaan dengan campuran
cinta
dan benci, perasaan marah berlangsung didalam hati.
3)
Faktor Genetik
Dari
faktor bawaan atau keturunan menerangkan apabila salah seorang kembar menderita
depresi, maka kemungkinan saudara kembarnya menderita pula sebesar 70 %.
Kemungkinan menderita depresi sebesar 15% pada anak, orang tua, dan kakak-adik
dari penderita depresi. Apabila anak yang orangtuanya pernah menderita
depresi,
sejak lahir diadopsi oleh keluarga yang tidak pernah menderita depresi,
ternyata kemungkinan untuk menderita depresi 3 kali lebih besar dibandingkan
anak - anak kandung keluarga yang mengadopsi.
4).Faktor-faktor
yang Mempengaruhi Depresi
Banyak
hal yang bisa menjadi faktor risiko timbulnya depresi, yaitu :
1)
Usia
Rata-rata
usia onset untuk gangguan depresif berat adalah kira-kira 40 tahun; dan 50%
dari pasien memiliki onset anatara usia 20-50 tahun.
2)
Jenis kelamin
Pada
pengamatan yang hampir uiversal, terlepas dari kultur atau negara, terdapat
prevalensi gangguan depresif berat yang dua kali lebih besar pada wanita
dibandingkan laki-laki. Hal ini mungkin disebabkan oleh rendahnya kesehatan
maternal.
3)
Pendidikan
Terdapat
hubungan yang signifikan pendidikan dengan depresi pada usia dewasa-tua.
Tingkat pendidikan berkaitan dengan kesehatan fisik yang baik.Penelitian di
Inggris menyebutkan bahwa lansia yang hanya menamatkan pendidikan dasar
mempunyai risiko terhadap depresi 2 kali lebih besar.
4)
Status pernikahan
Pada
umumnya, gangguan depresif berat terjadi paling sering pada orang yang tidak
memiliki hubungan interpersonal yang erat atau yang tercerai atau berpisah.
5).
Stressor Psikososial
Stressor
psikososial adalah setiap keadaan atau peristiwa yang menyebabkan perubahan
dalam kehidupan seseorang, sehingga orang itu terpaksa mengadakan adaptasi atau
penyesuaian diri untuk menanggulanginya. Namun tidak semua orang mampu
melakukan adaptasi dan mengatasi stressor tersebut,sehingga timbulah
keluhan – keluhan antara lain stres, cemas dan depresi.
DSM
IV-TR mendefinisikan stresor psikososial sebagai “setiap peristiwa hidup atau perubahan
hidup yang mungkin terkait secara temporal (dan mungkin kausal) dengan onset,
peristiwa, atau eksaserbasi gangguan mental. Masalah psikososial dalam PPGDJ
III dikategorikan dalam aksis IV yang
terdiri
dari masalah dengan “primary support group” atau keluarga, masalah
dengan lingkungan sosial, masalah pendidikan, pekerjaan, perumahan, ekonomi,
masalah akses ke pelayanan kesehatan, masalah yang berkaitan dengan hukum/
kriminal dan lainnya.
Anak
dan remaja dapat pula mengalami stres yang disebabkan karena kondisi keluarga
yan tidak harmonis. Sikap orang tua terhadap anak yang dapat menimbulkan stres
antara lain.
1.
Hubungan kedua orangtua yang dingin, atau penuh ketegangan, atau acuh tak
acuh.
2.
Kedua orangtua jarang di rumah dan tidak ada waktu untuk bersama dengan anak–
anak.
3.
Komunikasi antara orangtua dan anak yang tidak serasi
4.
Kedua orangtua berpisah (separate) atau bercerai (divorce).
5.
Salah satu orangtua menderita gangguan jiwa atau kelainan kepribadian.
6.
Orangtua dalam mendidik anak kurang sabar, pemarah, keras, otoriter, dan lain
sebagainya.
Dalam
interaksi sosial, seseorang dapat menyesuaikan diri secara pasif terhadap orang
lain (autoplastis), sedangkan mungkin dirinya sedang dipengaruhi oleh orang
lain. Mungkin juga seseorang menyesuaikan diri secara alloplastis (mengubah
lingkungan sesuai keinginan diri) terhadap orang lain, sedangkan orang lain itu
dipengaruhi oleh orang pertama, maka selalu akan terlihat hubungan timbal balik
yang saling berpengaruh antara seorang dengan orang lain.
Hubungan
antar sesama (perorangan/individual) yang tidak baik dapat merupakan sumber
stress. Misalnya hubungan yang tidak serasi, tidak baik atau buruk dengan kawan
dekat atau kekasih, antara sesama rekan, antara batasan dan bawahan, serta
pengkhianatan.
6).Hubungan
Penyakit Medis dengan Depresi
Adanya
berbagai penyakit kronik atau suatu keadaan multipatologi dan polifarmasi
semakin meningkatkan kejadian depresi pada lansia. Pasien geriatric yang
menderita depresi sering memiliki komorbid dengan penyakit vaskular. Istilah
komorbiditas menyatakan adanya dua atau lebih penyakit pada seorang pasien pada
waktu yang sama. Pada pasien lansia sering ditemukan keadaan multipatologi
(menderita dua atau lebih penyakit fisis) dan tidak jarang ditemui bersamaan (komorbiditas)
dengan gangguan psikis seperti depresi.
Penyakit
yang sering terjadi bersamaan dengan depresi antara lain diabetes melitus,
hipertensi, gagal jantung, penurunan fungsi hepar dan ginjal, penyakit
Parkinson, penyakit Alzheimer, stroke, dan arthritis. Penyakit
serebrovaskular merupakan factor predisposisi dan presipitasi sindrom depresi.
Infeksi virus, endokrinopati seperti kelainan tiroid dan paratiroid, serta
keganasan seperti limfoma dan karsinoma pankreas kerap menimbulkan komplikasi
depresi.
Penderita
hepatitis C lebih dari 5 tahun akan mengalami depresi sebanyak 22,4% dan
pasien-pasien yang berusia lebih dari 50 tahun secara klinis lebih mengalami
depresi daripada mereka yang berusia lebih muda. Pasien dengan penyakit ginjal
stadium akhir yang menjalani dialisis, prevalensi untuk terjadi depresi dapat
mencapai 25,4%.
Penelitian
Niti Matthew et al menyebutkan bahwa beberapa penyakit komorbid dengan
prevalensi depresi adalah hipertensi, gangguan penglihatan diabetes, arthritis,
penyakit jantung iskemik, asma/COPD, stroke, osteoporosis, gagal jantung,
gangguan tiroid dan gastrointestinal. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa
angka prevalensi depresi lebih tinggi dengan adanya penyakit kronik.
‘
3. Epidemiologi :
Prevalensi
penderita depresi di Indonesia diperkirakan 2,5 - 9 juta dari 210 juta jiwa
penduduk. Pada saat setelah pubertas
resiko untuk depresi meningkat 2-4 kali lipat, dengan 20% insiden pada usia 18
tahun. Perbandingan gender saat anak-anak 1:1, dengan peningkatan resiko
depresi pada wanita setelah pubertas,sehingga perbandingan pria dan wanita
menjadi 1:2. Hal ini berhubungan dengan tingkat kecemasan pada wanita tinggi,
perubahan estradiol dan testosteron saat pubertas, atau persoalan sosial budaya
yang berhubungan dengan perkembangan kedewasaan pada wanita.
Depresi
sering terjadi pada wanita dengan usia 25-44 tahun, dan puncaknya pada masa
hamil. Faktor sosial seperti stres dari masalah keluarga dan pekerjaan. Hal ini
disebabkan karena harapan hidup pada wanita lebih tinggi, kematian pasangan
mungkin juga menyebabkan angka yang tinggi untuk wanita tua mengalami depresi.
Penilaian
gejala depresi seperti perasaan sedih atau kekecewaan yang kuat dan terus
menerus yang mempengaruhi aktivitas normal, menunjukan prevalensi seumur hidup
sebanyak 9-20%.(3) Pada kriteria lain yang digunakan pada depresi berat,
prevalensi depresi 3% untuk pria dan 4-9% untuk wanita. Resiko seumur hidup
8-12% untuk pria dan 20-28% untuk wanita. Sekitar 12-20% pada orang yang
mengalami episode akut berkembang menjadi sindrom depresi kronis, dan diatas
15% pasien yang mengalami depresi lebih dari 1 bulan dapat melakukan bunuh
diri.
4.
Klasifikasi Depresi. :
Menurut
PPDGJ III, kriteria diagnosis episode depresif (F32) adalah sebagai
berikut:
Gejala
utama ( pada derajat ringan, sedang, dan berat) :
1)
Afek depresif
2)
Kehilangan minat dan kegembiraan
3)
Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah ( rasa lelah
yang nyata sesudah kerja sedikit saja ) dan menurunnya aktivitas.
Gejala
Lainnya :
1)
Konsentrasi dan perhatian berkurang
2)
Harga diri dan kepercayaan diri berkurang
3)
Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna
4)
Pandangan masa depan yang suram dan psimistik
5)
Gagasan atau perbuatan yang membahayakan diri atau bunuh diri
6) Tidur terganggu
-
Untuk episode depresif dari ketiga tingkat keparahan tersebut diperlukan masa
sekurang-kurangnya 2 minggu untuk penegakkan diagnosis, akan tetapi periode
lebih pendek dapat dibenarkan jika gejala luar biasa beratnya dan berlangsung
cepat.
-
Kategori diagnosis episode depresif ringan (F32.0), sedang (F32.1) dan berat
(F32.2) hanya digunakan untuk episode depresif tunggal (yang pertama). Episode
depresif berikutnya harus diklasifikasikan dibawah salah satu diagnosis
gangguan depresif berulang (F33-).
5.
Pedoman Diagnostik
|
Episode
Depresif Ringan
|
|
Episode
depresi ringan
-
Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi
seperti
tersebut diatas
-
Ditambah sekurang-kurangnya 2 dari gejala lainnya: (1 sampai
dengan
2).
-
Tidak boleh ada gejala berat diantaranya.
-
Lamanya seluruh episode berlangsung sekurang-kurangnya
sekitar
2 minggu.
-
Hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan sosial
yang
biasa dilakukannya.
|
|
Episode
Depresif Sedang
|
|
Episode
depresi sedang
-
Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi seperti pada
episode depresi ringan.
-
Ditambah 3 (dan sebaiknya 4) dari gejala lainnya.
-
Lamanya seluruh episode berlangsung minimum sekitar 2 minggu.
-
Menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan dan
urusan rumah tangga.
|
|
Episode
Depresif Berat tanpa Gejala Psikotik
|
|
Episode
depresi berat tanpa gejala psikotik
-
Semua 3 gejala utama depresi harus ada.
-
Ditambah sekurang-kurangnya 4 dari gejala lainnya, dan beberapa di antaranya
harus berintensitas berat.
-
Bila ada gejala penting ( misalnya agitasi atau retardasi psikomotor) yang
mencolok, maka pasien mungkin tidak mau atau tidak mampu untuk melaporkan
banyak gejalanya secara rinci.
Dalam
hal demikian, penilaian secara menyeluruh terhadap
episode
depresif berat masih dapa dibenarkan.
-
Episode depresif biasanya harus berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu, akan
tetapi jika gejala amat berat dan beronset sangat cepat, maka masih
dibenarkan untuk menegakkan diagnosis dalam kurun waktu kurang dari 2 minggu.
-
Sangat tidak mungkin pasien akan mampu meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan
atau urusan rumah tangga, kecuali pada taraf yang sangat terbatas.
|
|
Episode Depresif
Berat dengan Gejala Psikotik
|
|
Episode
depresi berat dengan gejala psikotik
-
Episode depresif berat yang memenuhi kriteri menurut F32.2 tersebut diatas.
-
Disertai waham, halusinasi atau stupor depresif. Waham malapetaka yang
mengancam dan pasien merasa bertanggung jawab atas hal itu. Halusinasi auditorik
atau olfatorik biasanya berupa suara yang menghina atau menuduh, atau bau
kotoran
atau
daging membusuk. Retardasi psikomotor yang berat dapat menuju stupor.
Jika
diperlukan, waham atau halusinasi dapat ditentukan sebagai
serasi
atau tidak serasi dengan afek (mood-congruent).
|
6. Diagnosis banding :
1)
Bereavement (Kehilangan teman atau keluarga karena kematian)
Bereavement
atau
rasa kesedihan yang berlebihan karena putusnya suatu hubungan dapat
memperlihatkan gejala yang sama dengan episode depresi mayor. Tingkat keparahan
dan durasi dari gejala dan dampaknya pada fungsi sosial dapat membantu dalam
menyingkirkan antara kesedihan yang mendalam dan Major Depressive Disorder (MDD).
|
Pembeda antara bereavement dan
episode depresi mayor
|
||
|
Gejala
|
bereavement
|
MDD
|
|
Waktu
|
Kurang dari 2 bulan
|
Lebih dari 2 bulan
|
|
Perasaan tidak berguna/tidak pantas
|
Tidak ada
|
ada
|
|
Ide bunuh diri
|
Tidak ada
|
Kebanyakan ada
|
|
Rasa bersalah
|
Tidak ada
|
Mungkin ada
|
|
Perubahan psikomotor
|
Agitasi ringan
|
Melambat
|
|
Gangguan fungsi
|
Ringan
|
Sedang –berat
|
2) gangguan afektif disebabkan
kondisi medis umum
Gejala depresi dapat diperlihatkan dari efek
fisiologis suatu kondisi medis khusus yang terjadi sebelumnya. Sebaliknya,
gejala fisik suatu penyakit medis utama sulit untuk dapat didiagnosis yang
berkormorbid dengan MDD. The Hospital Anxiety and Depression Scale (HADS)
sangat berguna untuk alat deteksi pasien dengan penyakit medis dimana digunakan
pertanyaan yang memfokuskan pada gejala kognitif dibandingkan dengan gejala
somatiknya. MDD sama banyaknya dengan penyakit kronis tetapi lebih umum
diabetes, penyakit tiroid, dan gangguan neurologis (penyakit Parkinson,
multiple sklerosis).
|
Kondisi medis umum berhubungan dengan
gejala depresi
|
|
|
Gangguan
Neurologis
·
Penyakit Alzheimer
·
Penyakit serebrovaskular
·
Neoplasma cerebral
·
Trauma cerebral
·
Infeksi SSP
·
Dementia
·
Epilepsy
·
Penyakit Ekstrapiramidal
·
Penyakit Huntington
·
Hydrocephalus
·
Migraine
·
Multiple sklerosis
·
Narcolepsy
·
Penyakit Parkinson
·
Supranuclear palsy progresif
·
Sleep apnea
·
Penyakit Wilson
Gangguan
Sistemik
·
Infeksi virus dan bakteri
Inflamasi
·
Rheumatoid arthritis
·
Sindrom Sjogren
·
Systemic lupus erythematosus
·
Arteritis temporal
|
Gangguan
Endokrin
·
Adrenal Cushing Addison
Hyperaldosteronisme
·
Berhubungan dengan haid
·
Penyakit paratiroid
·
Penyakit tiroid
·
Defisiensi vitamin
temporal
B12/folat
Vitamin
C
Niacin
Thiamine
Gangguan
lainnya
·
AIDS
·
Kanker
·
Sindrom klinefelter
·
Infak miokard
·
Porphyrias
·
ebelum operasi
·
Penyakit ginjal dan uremia
·
Neoplasma sistemik
|
3) Gangguan Afektif Disebabkan Karena Zat
Efek
samping obat (baik yang diresepkan atau tidak) dapat memperlihatkan gejala
depresi, jadi suatu zat yang dapat mempengaruhi gangguan mood harus dapat
dipertimbangkan dalam mendiagnosis banding MDD. Bukti dari riwayat, pemeriksaan
fisik, atau temuan laboratorium digunakan untuk dapat menentukan adanya suatu
pengalahgunaan, ketergantungan, intoksikasi/keracunan, atau kondisi putus obat
yang secara fisoilogis akan menyebabkan suatu episode depresi.
Selama
gejala depresi karena pengaruh obat dapat disembuhkan dengan menghentikan
penggunaan obat tersebut, gejala putus obat dapat berlangsung selama beberapa
bulan.
|
Obat
yang umum disalahgunakan dan menyebabkan gangguan
mood yang
dipengaruhi zat
|
|
·
Alcohol
·
Amfetamin
·
Anxiolitik
·
Kokain
·
Zat-zat halusinogen
·
Hipnotik
·
Inhalant
·
Opioid
·
Phencycline
·
Sedatif
|
4) Gangguan Bipolar
Sejarah
adanya mania atau hipomania mengidentifikasikan adanya gangguan bipolar, tetapi
semenjak (1) gangguan bipolar sering berawal dengan episode depresi, dan (2)
pasien bipolar mengalami episode depresi lebih lama dibandingkan dengan
hipomania/mania, hal ini penting untuk untuk mengeluarkan diagnosis bipolar
ketika sedang mendiagnosis MDD. Pada kenyataannya, 5-10% individu yang
mengalami episode depresi mayor, akan memiliki episode hipomanik atau manik
didalam kehidupannya. Gejala depresi yang memperlihatkan suatu gangguan bipolar
termasuk didalamnya pemikiran yang kacau, gejala psikotik, gambaran atipikal
(pipersomnia, makan berlebihan), onset usia dini, dan episode kekambuhan.
Gangguan Bipolar II (dengan hipomania) sulit untuk dikenali karena pasien tidak
mengenali hipomania sebagai suatu kondisi yang abnormal – mereka menerima itu
sebagai perasaan yang baik. Informasi yang mendukung dari pasangan hidup, teman
terdekat, dan keluarga sering menjadi hal yang penting untuk dapat
mendiagnosis. Pertanyaan-pertanyaan yang valid, seperti kuesioner gangguan
afektif, dapat membantu dalam mengidentifikasi hipomania.
7. Terapi :
1. Psikoterapi
Beberapa
teknik psikoterapi yang dilakukan untuk mengatasi depresi, antara lain:
- Cognitive behavior therapy (CBT). Terapi ini diterapkan pada orang-orang yang tersandera oleh pola pikir tertentu yang merugikan mereka. CBT akan membantunya untuk melepaskan diri dari pikiran dan perasaan negatif, serta menggantinya dengan respons positif. CBT juga dapat membantu pasien untuk mengenali kondisi yang membuat depresi semakin buruk, sehingga pasien dapat merubah perilaku untuk mengatasinya. Biasanya CBT dilakukan 6-8 sesi selama 10-12 minggu.
- Problem-solving therapy (PST). PST bisa meningkatkan kemampuan penderita untuk menghadapi pengalaman yang membuatnya tertekan, khususnya penderita depresi yang usianya sudah lebih dewasa. Penderita akan diminta untuk mengidentifikasi masalah-masalah dan mendapatkan solusi-solusi realistis melalui proses yang bertahap.
- Interpersonal therapy (IPT). Prinsip dasar IPT adalah mengatasi masalah yang muncul saat berhubungan dengan orang lain, yang dapat mengakibatkan atau memperparah depresi.
- Terapi psikodinamis. Terapi ini mendorong pasien untuk menyelami berbagai perasaan dan emosi yang ada dalam dirinya, yang kadang tidak disadarinya. Tujuan dari terapi psikodinamis adalah membantu pasien untuk memahami bahwa apa yang dirasakannya dan bagaimana dia bersikap, dipengaruhi oleh adanya masalah yang belum diselesaikan, di pikiran bawah sadarnya.
2.
Antidepresan
Antidepresan
adalah obat-obatan untuk mengatasi gejala depresi. Terdapat berbagai macam obat
antidepresan, dengan tingkat keberhasilan dan dampak yang berbeda-beda pada
tiap orang.
Biasanya,
obat antidepresan membutuhkan waktu beberapa minggu atau bulan untuk bekerja
dan mulai menghilangkan gejala yang dirasakan penderita depresi. Setelah obat
mulai bekerja, konsumsi obat akan diteruskan sampai 6 bulan hingga 1 tahun, dan
dihentikan setelah gejala depresi benar-benar hilang
pengolongan
|
1.
tricyclic compound
|
Amitriptyline (amitryptiline)
Imipramine (tofrani)
Clomipramine (anafrani)
Tianeptine (stablon)
|
|
1.
Tetracyclic compound
|
Maprotiline (ludiomi)
Mianserine (tolvon)
Amoxapine (asenidin)
|
|
2.
Monoamine oxydase inhibitor
(MAOI)- reversible
|
Moclobemide (aurorix)
|
|
3.
Selective serotonin reuptake
inhibitor ( SSRI)
|
Setraline (zolott)
Paroxetine (seroxoat)
Fluvoxamine (luvox)
Fluoxetine (Prozac,nopires)
Citalopram (cipram)
|
|
4.
Atypical anti depresan
|
Trazodone (trazone)
Mirtazapine ( remeron)
|
8.
Komplikasi:
Depresi
merupakan kondisi kesehatan serius yang dapat membawa pengaruh buruk pada
penderita juga orang di sekitarnya. Beberapa komplikasi terkait dengan depresi
meliputi:
1.
Obesitas
yang memicu terjadinya penyakit jantung dan diabetes.
2.
Penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan
terlarang. Isolasi sosial.
3.
Kekerasan terhadap diri sendiri maupun orang
lain.
4.
Bunuh
diri.
5. Kematian dini akibat kondisi medis
yang mungkin timbul
9.
Pencegahan
:
Langkah
- langkah berikut bisa membantu:
·Cobalah untuk mendiskusikan perasaan
dan menyalurkan stres Anda dengan
benar.
·Pertahankan gaya hidup yang sehat,
misalnya terlibat dalam aktivitas atau hobi
yang
sehat.
·Bersikap yang terbuka dan positif
terhadap depresi.
·Secara aktif mencari bantuan untuk
memecahkan masalah.

Komentar
Posting Komentar