DEMAM TIFOID
DEMAM TIFOID
3.
1 Defenisi
Demam tifoid adalah suatu penyakit
sistemik bersifat akut yang disebabkan oleh Salmonella
typhi dan Paratyphi A , B, dan C[1].
3.2 Etiologi
Salmonella
typhii sama dengan Salmonela yang lain adalah bakteri Gram-negatif,
mempunyai flagela, tidak berkapsul, tidak membentuk spora, fakultatif anaerob.
Mempunyai antigen somatik (O) yang terdiri dari polisakarida. Mempunyai makromolekular
lipopolisakarida kompleks yang membentuk lapis luar dari dinding sel dan
dinamakan endotoksin. Salmonella typhii
juga dapat memperoleh plasmid faktor- R
yang berkaitan dengan resistensi terhadap multipel antibiotik. Demam
paratifoid: S. paratyphi A, S. schottmuelleri, S. hirschfeldii,
dan serotipe lain[1].
3.3 Epidemiologi
Demam tifoid masih merupakan
masalah kesehatan yang penting di berbagai negara sedang berkembang. Diperkirakan
angka kejadian dari 150/ 100.000/ tahun di amerika selatan dan
900/100.000/tahun di asia. Umur penderita yang terkena di Indonesia (daerah
endemis) dilaporkan antara 3-19 tahun mencapai 91% kasus. Angka yang kurang
lebih sama juga dilaporkan dari Amerika Selatan[1].
3.4 Patogenesis
Patogenesis demam tifoid melibatkan 4 proses
kompleks mengikuti ingesti organisme, yaitu penempalan dan invasi sel-sel M Peyer’s patch, bakteri bertahan hidup
dan bermultiplikasi di makrofag Peyer’s
patch, nodus limfatikus mesentrikus, dan organ-organ ekstra intestinal
sistem etikuloendotelial, bakteri bertahan hidup di dalam aliran darah, dan
memproduksi enterotoksin yang meningkatkan kadar cAMP di dalam kripta usus
danmenyebabkan keluarnya elektrolit dan air ke dalam lumen intestinal[1].
3.5 Manifestasi Klinis
Pada anak, periode inkubasi demam
tifoid antara 5-40 hari dengan rata-rata antara 10-14 hari. Gejala klinis demam
tifoid sangat bervariasi, dari gejala klinis ringan dan tidak memerlukan perawatan
khusus sampai dengan berat sehingga harus dirawat. Semua pasien demam tifoid
selalu menderita demam pada awal penyakit[1].
Demam pada kasus demam tifoid
mempunyai step-ladder temperatur chart yang ditandai dengan demam timbul
insidius, kemudian naik secara bertahap tiap harinya dan mencapai titik tertinggi
pada akhir minggu pertama, setelah itu demam akan bertahan tinggi dan pada
minggu ke-4 demam turun perlahan secara lisis, kecuali apabila terjadi fokus
infeksi seperti kolesistitis, abses jaringan lunak maka demam akan menetap[1].
Gejala sistemik lain yang menyertai
timbulnya demam adalah nyeri kepala, malaise, anoreksia, nausea, mialgia, nyeri
perut dan radang tenggorakan. Pada kasus yang berpenampilan klinis berat, pada
saat demam tinggi akan tampak toksik/sakit berat. Bahkan dapat juga dijumpai
penderita demam tifoid yang datang dengan syok hipovolemik sebagai akibat kurang
masukan cairan dan makanan[1].
Gejala gastrointestinal pada kasus
demam tifoid sangat bervariasi. Pasien dapat mengeluh diare, obstipasi, atau
obstipasi kemudian disusul episode diare, pada pasien lidah tampak kotor dengan
putih di tengah sedang tepi dan ujungnya kemerahan serta dijumpai meteorismus[1].
-
Sekolah dan Masa Remaja
Gejala klinis menyerupai penderita
dewasa seperti Malaise, anoreksia, mialgia, sakit kepala, sakit daerah abdomen
(anak biasanya tidak dapat menunjukkan daerah yang paling sakit/rasa tidak
nyaman difus), keluhan ↑ pada minggu kedua[2].
Demam sampai hr ke-4 bersifat remiten,
dengan pola seperti anak tangga (stepwise fashion), sesudah hr ke-5 atau
paling lambat akhir minggu pertama pola demam berbentuk kontinu. Diare dapat
ditemukan pada hari-hari pertama sakit, selanjutnya terjadi konstipasi[2].
Bila diare terjadi sesudah minggu
kedua harus dicurigai infeksi tambahan oleh jasad renik lain Mual dan muntah
dapat ditemukan pada awal sakit, bila ditemukan pada mgg kedua atau ketiga
harus diwaspadai awal suatu penyulit. Pada minggu kedua keluhan malaise, anoreksia,
mialgia, sakit kepala, sakit daerah abdomen pada mgg kedua bertambah berat,
dapat ditemukan disorientasi, letargi, delirium bahkan stupor[2].
Dapat ditemukan hepatomegali,
splenomegali, distensi abdomen yang disertai rasa sakit. Biasanya anak tidak
dapat melokalisasi rasa sakit, memberi kesan rasa tidak enak/sakit yang difus. Rose
spot ditemukan pada 50% kasus, dicari di daerah dada bawah dan abdomen
bagian atas. Bila ditemukan tanda pneumonia seperti sesak napas dan crackles,
biasanya terjadi sesudah minggu kedua dan merupakan superinfeksi[2].
-
Usia Balita
Relatif jarang, biasanya bersifat
ringan berupa demam ringan, malaise, dan diare[2].
-
Neonatus
Gejala timbul biasanya sesudah 3 hr
pascadilahirkan berupa muntah-muntah, diare, distensi abdomen. Suhu tubuh tidak
stabil, ikterus, BB ↓, undoing well, kadang disertai kejang[2].
3.6 Diagnosis
Manifestasi demam tifoid sangat luas
dan tidak khas, sehingga diagnosis pasti ditegakkan atas ditemukannya bakteri
pada kultur. Dengan demikian, pada pengelolaan kecurigaan demam tifoid harus
dilakukan pemeriksaan biakan sebelum pemberian antibiotik. Pada umumnya terjadi
pada akhir minggu kedua atau awal minggu ketiga berupa: Perforasi intestinal
(0,5–3%), perdarahan intestinal (1–10%), hepatitis tifosa, kolesistitis,
pankreatitis, sepsis, pielonefritis, ensefalopati, pneumonia, dan lain-lain[2].
§
Isolasi
§
Tirah rebah selama
panas
§
Diet makanan lunak yang
mudah dicerna[2].
Pemeriksaan Penunjang
§
Darah rutin: Sering
ditemukan anemia normokrom-normositer akibat supresi sumsum tulang, leukopenia
tetapi jarang <2.500/mm3 disertai[2].
§
limfositosis relatif:
Dapat ditemukan trombositopenia yang cukup berat terutama pada akhir minggu
pertama[2].
§
Kimia darah: Pada
penderita dengan penyulit hepatitis tifosa dapat ditemukan peningkatan
transaminase hepar dan bilirubin serum (harus dibuktikan bukan oleh sebab lain
seperti virus hepatitis). Pada penderita gizi kurang/buruk dapat ditemukan
hiponatremia dan hipokalemia[2].
§
Biakan Salmonela Darah:
umumnya (+) pada mgg pertama dan awal minggu ke-2 (60–80%) dari rose spot (60%),
sumsum tulang (80–90%)[2].
§
Pemeriksaan kultur
sumsum tulang merupakan tindakan invasif, biasanya hanya dilakukan untuk
keperluan penelitian[2].
§
Urin/feses: sesudah
bakteremia sekunder (minggu ke-2–3) [2].
§
Serologi[2].
§
Tes Widal: diambil 2×
(dengan serum berpasangan), didapat ↑ titer O >4×, pemeriksaan ini sebaiknya
tidak dilakukan karena banyak ditemukan nilai (+) palsu IgM anti-S. typhi
hr ke-6–8, pemeriksaan ini hanya berlaku untuk demam tifoid, bila (−) tidak
menyingkirkan kemungkinan demam paratifoid[2].
§
Pemeriksaan antigen
bakteri: polymerase chain reaction (PCR) [2].
§
Pemeriksaan lain
seperti pencitraan (Rontgen toraks, Rontgen polos perut (BNO), USG abdomen), D-dimer,
dan lain-lain dilaksanakan apabila terjadi penyulit[2].
Terapi penyulit:
-
Kortikosteroid. Pada
kasus berat dengan gangguan kesadaran (stupor, koma), gangguan sirkulasi, dan
gejala berkepanjangan
-
Deksametason 3 mg/kgBB
inisial, diikuti 1 mg/kgBB tiap 6 jam selama 48 jam. Bila terjadi hipotermia
akibat pemberian deksametason, pengalaman kami menunjukkan pemberian dengan dosis
0,15 mg/kgBB cukup aman dan efektif[2].
-
Diagnosis
Banding
1. Tahap awal demam: gastroenteritis akut, malaria,
bronkitis dan brokopneumonia[3].
2. Sepsis dengan bakteri patogen lainnya[3].
3. Infeksi yang disebabkan mikroorganisme
intraseluler: Tuberkulosis, brucellosis, tularemia, leptospirosis, dan penyakit
rickettsial[3].
4. Infeksi virus: demam berdarah, hepatitis akut dan
mononukleosis menular[3].
3.7 Tata
Laksana dan Pencegahan
Antibiotik yang digunakan untuk demam
tifoid
-
Kloramfenikol (drug of
choice) 50-100 mg/kgbb/hari, oral atau IV dibagi dalam 4 dosis selama 10-14 hari[3].
-
Amoksisilin 100
mg/kgbb/hari, oral atau intravena, selama 10 hari[3].
-
Sefotaksim 80
mg/kgbb/hari selama 10-14 hari[3].
-
Seftriakson 60
mg/kgbb/hari, intravena atau intramuskular, sekali sehari, selama 10-14 hari[3].
-
Sefiksim 15-20
mg/kgbb/hari, selama 7-14 hari[3].
-
Azitromisin 10-20
mg/kgbb/hari selama 7 hari atau fluoroquinolon 20 mg/kgbb/hari selama 7-14 hari[3].
Penggunaan
Antibiotik pada Demam Tifoid berat
1. fully
sensitif: Fluoroquinolon 10-14 hari[3].
2. Multidrug
resistance : Fluoroquinolon 15 mg/kgbb/hari 10-14 hari[3].
3. Quinolon
resistant: seftriakson 60 mg/kgbb/hari selama 10-14 hari atau sefotaksim 80
mg/kgbb/hari selama 10-14 hari[3].
3.8 Bedah
Tindakan bedah diperlukan pada penyulit
perforasi usus[4].
3.9 Suportif
-
Tirah baring[4].
-
Isolasi memadai[4].
-
Kebutuhan cairan dan
kalori dicukupi, yaitu terutama pada demam tinggi, muntah, atau diare, pada
ensefalopati jumlah kebutuhan cairan dikurangi menjadi 4/5 kebutuhan dengan
kadar natrium rendah, Penuhi kebutuhan volume cairan intravascular dan jaringan[4].
-
Pertahankan fungsi sirkulasi
dengan baik, Pertahankan oksigenasi jaringan, bila perlu berikan oksigen[4].
-
Pelihara keadaan nutrisi[4].
-
Pengobatan gangguan
asam basa dan elektrolit[4].
-
Antipiretik dapat diberikan
bila dijumpai demam[4].
-
Diet berupa makanan
tidak berserat dan mudah dicerna, setelah demam reda dapat segera diberikan
makanan yang lebih padat dengan kalori yang cukup[4].
3.10 Pencegahan
Secara umum, untuk memperkecil
kemungkinan tercemar S.typhi, maka
setiap individu harus memperhatikan kualitas makanan dan kan kuman minuman yang
dikonsumsi. Untuk makanan, pemanasan sampai suhu 57°C beberapa menit dapat mematikan
kuman Salmonella typhi. Penurunan
endemisitas suatu negara/daerah tergantung pada baik buruknya pengdaan sarana
air dan pengaturan pembuangan sampah serta tingkat kesadaran terhadap higiene
pribadi[1].
Terdapat 3 macam vaksin untuk
penyakit demam tifoid yaitu berisi kuman yang dimatikan, kuman hidup, dan
komponen Vi dari Salmonella thypi, S.
paratypi B yang dimatikan (TAB vaccine) secara suntikan subkutan. Vaksin
yang berisi kuman Salmonella typhi
hidup yang dilemahkan diberikan per oral tiga kali dengan interval pemberian
selang sehari dapat memberi perlindungan 6 tahun. Vaksin ini diberikan pada
anak diatas umur 2 tahun[1].
3.11 Komplikasi
Komplikasi pada demam tifoid intraintestinal
dapat berupa perforasiusus atau perdarahan saluran cerna, suhu menurun, nyeri
abdomen, muntah, nyeri tekan pada palpasi, bising usus menurun sampai
menghilang. Pada ekstraintestinal dapat berupa tifoid ensefalopati, hepatitis
tifosa, meningitis, pneumonia, syok septik, pielonefritis, endokarditis,
osteomielitis[1].

Komentar
Posting Komentar