DELIRIUM
BAB
I
PENDAHULUAN
Tanda utama dari
delirium adalah suatu gangguan kesadaran, biasanya terlihat bersamaan dengan
gangguan fungsi kognitif secara global. Delirium merupakan suatu sindrom, bukan
suatu penyakit dan mempunyai banyak penyebab yang kesemuannya menggambarkan
pola gejala yang sama yaitu berhubungan dengan tingkat kesadaran dan gangguan
kognitif. Namun secara klinis delirium kurang dikenali dan kurang
didiagnosis.
Delirium merupakan sindroma mental organik
akut yang berakibat hendaya kognitif yang menyeluruh. Delirium dianggap
satu pertanda disfungsi otak akut dan oleh sebab itu suatu kedaruratan medik.
Gangguan fungsi atau metabolisme otak secara umum atau karena keracunan yang
menghambat metabolisme otak menyebabkan timbulnya keluhan utama berupa
penurunan kesadaran, sehingga penderita tidak mampu mengenal orang dan
berkomunikasi dengan baik, bicaranya inkoheren, bingung, cemas, gelisah dan
panik. Kondisi ini dapat terjadi pada semua usia namun yang paling sering pada
usia diatas 60 tahun.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1.
Definisi
Delirium
Kata “delirium” berasal dari bahasa
latin yang artinya lepas jalur. Sindrom ini pernah dilaporkan pada masa
Hippocrates dan pada tahun 1813 Sutton mendeskripsikan sebagai delirium
tremens, kemudian Wernicke menyebutnya sebagai Encephalopathy Wernicke. Delirium
bukanlah suatu penyakit melainkan suatu sindrom dengan penyebab multipel yang
terdiri atas berbagai macam pasangan gejala akibat dari suatu penyakit dasar.
Delirium didefinisikan
sebagai disfungsi serebral yang reversibel, akut dan bermanifestasi klinis pada
abnormalitas neuropsikiatri. Sebagian besar kausa delirium muncul dari luar
sistem saraf pusat, contoh gagal ginjal dan hati. Delirium tetap merupakan
gangguan klinis yang kurang dikenali dan jarang didiagnosis.
Sebagian dari
masalahnya adalah bahwa sindrom ini memiliki nama lain yang bervariasi,
contohnya keadaan kebingungan akut, sindroma otak akut, ensefalopati metabolik,
psikosis toksik, dan gagal otak akut. Delirium adalah diagnosis klinis, gangguan
otak difus yang dikarakteristikkan dengan variasi kognitif dan gangguan tingkah
laku. Delirium ditandai oleh gangguan kesadaran, biasanya terlihat bersamaan
dengan fungsi gangguan kognitif secara global. Kelainan mood, persepsi dan
perilaku adalah gejala psikiatrik yang umum; tremor, asteriksis, nistagmus,
inkoordinasi dan inkontinensia urin merupakan gejala neurologis yang umum.
2.2.
Epidemiologi
Delirium
Delirium merupakan gangguan yang sering dijumpai.
Usia lanjut adalah faktor resiko utama timbulnya delirium, sekitar 30 – 40
persen dari pasien yang dirawat berusia 65 tahun dan memiliki episode delirium.
Faktor redisposisi lain adalah usia muda (yaitu anak), kerusakan otak yang
telah ada sebelumnya ( contohnya demensia, penyakit serebrovakular, tumor),
riwayat delirium, diabetes, kanker, gangguan sensorik, dan malnutrisi. Jenis
kelamin pria merupakan suatu faktor predisposisi independen bagi delirium
menurut DSM - IV. Sekitar 10 sampai 15 persen adalah pasien bedah dan 15 sampai
25 % pasien perawatan medis di rumah sakit. Sekitar 30 % pasien dirawat di ICU bedah
dan ICU jantung. 40 sampai 50 pasien yang dalam masa penyembuhan dari tindakan
bedah pinggul memiliki episode delirium. Penyebab dari pasca operasi delirium termasuk
stress dari pembedahan, sakit pasca operasi, pengobatan anti nyeri, ketidakseimbangan
elektrolit, infeksi, demam, dan kehilangan darah.
2.3.
Etiologi
Delirium
Terdapat empat
subkategori berdasarkan sejumlah penyebab, yaitu: Kondisi umum seperti infeksi,
terinduksi obat, etiologi multipel seperti trauma kepala dan penyakit ginjal,
delirium yang tergolong di tempat lain seperti kurang tidur. Seringkali
delirium merupakan multifaktorial dalam etiologinya. Di bawah ini merupakan
multifaktorial etiologi :
a. Penyebab
reversible antara lain :
1. Hipoksia
2. Hipoglikemia
3. Hipertermia
4. Antikolinergik
delirium
5. Putus
alkohol atau sedatif
b. Perubahan
struktural :
1. Trauma tertutup kepala
atau perdarahan serebral
2. Kecelakaan
serebrovaskular antara lain : infark serebri, perdarahan subaraknoid, hipertensive
encephalopathy
3. Tumor
kepala primer maupun metastase
4. Abses
otak
c. Akibat
metabolik
1. Gangguan
air dan elektrolit, gangguan asam - basa, hipoksia
2. Hipoglikemia
3. Gagal
ginjal atau gagal hati
4. Defisiensi
vitamin terutama Thiamine dan Cyanocobalamin
5. Endokrinopati
terutama berhubungan dengan tiroid dan paratiroid
d. Keadaan
hipoperfusi :
1. Syok
2. CHF
(Congestive Heart Failure)
3. Cardiac
aritmia
4. Anemia
e. Infeksi
:
1. Infeksi susunan saraf pusat seperti meningitis
2. Ensefalitis
3. Infeksi
otak yang berhubungan dengan HIV
4. Septikemia
5. Pneumonia
6. UTI
(Urinary Tract Infection )
Penyebab utama
delirium:
1. Penyakit
pada CNS – encephalitis, space occupying lesions, tekanan tinggi intrakranial
setelah episode epilepsi.
2. Demam
– penyakit sistemik
3. Kegagalan
metabolik – kardiak, respiratori, renal, hepatik, hipoglikemia
Faktor
predisposisi
1. Demensia
2. Obat-obatan
multipel
3. Umur
lanjut
4. Kecelakaan
otak seperti stroke, penyakit Parkinson
5. Gangguan
penglihatan dan pendengaran
6. Ketidakmampuan
fungsional
7. Hidup
dalam institusi
8. Ketergantungan
alkohol
9. Isolasi
sosial
10. Kondisi
komorbid multipel
11. Depresi
12. Riwayat
delirium post-operatif sebelumnya
2.4.
Gejala
Klinis Delirium
Delirium mempunyai onset yang mendadak (beberapa jam
atau hari), perjalanan yang singkat dan berfluktuasi dan perbaikan yang cepat
jika faktor penyebab diidentifikasi dan dihilangkan. Tetapi masing-masing ciri karakteristik
tersebut dapat bervariasi pada pasien individual.
Tanda
dan Gejala delirium:
1.
Gangguan
kesadaran
a.
Disorientasi
b.
Konsentrasi kurang
2.
Tingkah laku
a.
Hiperaktif
b.
Hipoaktif
3.
Pikiran
a.
Bizarre
b.
Ideas of reference
c.
waham
4.
Mood
a.
Cemas, Irritable
b.
Depresi
5.
Persepsi
a.
Illusi
b.
Halusinasi (visual)
6.
Memori
a.
Terganggu
*Fluctuating course,
worse in the evening
Gambaran kunci dari delirium adalah suatu gangguan
kesadaran, yang dalam DSM V digambarkan sebagai penurunan kejernihan kesadaran
terhadap lingkungan dengan penurunan kemampuan untuk memusatkan, mempertahankan
atau mengalihkan perhatian. Keadaan delirium mungkin didahului selama beberapa
hari oleh perkembangan kecemasan, mengantuk, insomnia, halusinasi transient,
mimpi menakutkan di malam hari, kegelisahan.
Kesadaran
(Arousal)
Dua
pola umum kelainan kesadaran telah ditemukan pada pasien dengan delirium, satu
pola ditandai oleh hiperaktivitas yang berhubungan dengan peningkatan
kesiagaan, pola lain ditandai oleh penurunan kesiagaan. Pasien dengan delirium
yang berhubungan dengan putus zat seringkali mempunyai delirium hiperaktif,
yang juga dapat disertai dengan tanda otonomik, seperti kemerahan kulit, pucat,
berkeringat, takikardia, pupil berdilatasi, mual, muntah, dan hipertermia.
Pasien dengan gejala hipoaktif kadang-kadang diklasifikasikan sebagai depresi,
katatonik atau mengalami demensia.
Orientasi
Orientasi
terhadap waktu, tempat dan orang harus diuji pada seorang pasien dengan
delirium. Orientasi terhadap waktu seringkali hilang bahkan pada kasus delirium
yang ringan. Orientasi terhadap tempat dan kemampuan untuk mengenali orang lain
(sebagai contohnya, dokter, anggota keluarga) mungkin juga terganggu pada kasus
yang berat. Pasien delirium jarang kehilangan orientasi terhadap dirinya
sendiri.
Bahasa
dan Kognisi
Pasien
dengan delirium seringkali mempunyai kelainan dalam bahasa. Kelainan dapat berupa
bicara yang melantur, tidak relevan, atau membingungkan (inkoheren) dan
gangguan kemampuan untuk mengerti pembicaraan. Fungsi kognitif lainnya yang
mungkin terganggu pada pasien delirium adalah fungsi ingatan dan kognitif umum.
Kemampuan untuk menyusun, mempertahankan dan mengingat kenangan mungkin
terganggu, walaupun ingatan kenangan yang jauh mungkin dipertahankan. Di
samping penurunan perhatian, pasien mungkin mempunyai penurunan kognitif yang
dramatis sebagai suatu gejala hipoaktif delirium yang karakteristik. Pasien
delirium juga mempunyai gangguan kemampuan memecahkan masalah dan mungkin
mempunyai waham yang tidak sistematik, kadang - kadang paranoid.
Persepsi
Pasien
dengan delirium seringkali mempunyai ketidakmampuan umum untuk membedakan
stimulus sensorik dan untuk mengintegrasikan persepsi sekarang dengan
pengalaman masa lalu mereka. Halusinasi relatif sering pada pasien delirium.
Halusinasi paling sering adalah visual atau auditori walaupun dapat pula
halusinasi taktil atau olfaktoris. Ilusi visual dan auditoris adalah sering pada
delirium.
Suasana
Perasaan
Pasien
dengan delirium mempunyai kelainan dalam pengaturan suasana. Gejala yang paling
sering adalah kemarahan, kegusaran, dan rasa takut yang tidak beralasan.
Kelainan suasana perasaan lain adalah apatis, depresi, dan euforia.
Gejala
Penyerta :
Gangguan
Tidur-Bangun
Tidur
pada pasien delirium secara karakteristik akan terganggu. Paling sedikit
mengantuk selama siang hari dan dapat ditemukan tidur sekejap di tempat tidurnya
atau di ruang keluarga. Seringkali keseluruhan siklus tidur-bangun pasien dengan
delirium semata-mata terbalik. Pasien seringkali mengalami eksaserbasi gejala
delirium tepat sebelum tidur, situasi klinis yang dikenal luas sebagai sundowning.
Gejala
Neurologis
Gejala
neurologis yang menyertai, termasuk disfagia, tremor, asteriksis, inkoordinasi,
dan inkontinensia urin.
2.5.
Diagnosis
Delirium
Kriteria diagnostik untuk
delirium akibat kondisi medis umum berdasarkan DSM – IV
1. Gangguan
kesadaran ( berkurangnya kejernihan kesiagaan terhadap lingkungan) disertai
penurunan kemampuan memfokuskan, mempertahankan, atau mengalihkan atensi.
2. Perubahan
kognisi (seperti defisit memori, disorientsi, gangguan bahasa) atau timbulnya
gangguan persepsi yang tidak disebabkan oleh demensia yang telah ada
sebelumnya, telah ditegakkan sebelumnya, atau sedang berkembang.
3. Gangguan
tersebut terjadi dalam waktu singkat dan cenderung berfluktuasi sepanjang hari.
Terdapat bukti berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratorium
bahwa gangguan tersebut disebabkan oleh konsekuensi
fisiologis langsung dari suatu kondisi
umum.
2.6.
Diagnosis
Banding
Tabel 1. Perbedaan Delirium, Demensia
dan Depresi
|
|
Delirium
|
Demensi
|
Depresi
|
|
Kesadaran
|
Berubah dan
berfluktuasi, suram
|
Tidak uram
sampai tahap terminal
|
Umumnya baik
|
|
Orientasi
|
Disorientasi
dan disorganisasi
|
Disorientasi
pada stage selanjutnya
|
Berorientasi
atau sulit dinilai karena apatis
|
|
Onset
|
Akut atau
subakut
|
Kronik
|
Akut, subakut,
atau kronik
|
|
Proses
terjadinya
|
Fluktuatif dan
reversibel
|
Progresif dan
ireversibel
|
Stabil dan
ireversibel
|
|
Atensi
|
Jangka pendek
|
Normal
|
Normal
|
|
Perubahan psikomotor
|
Umum (hipoaktif atau hiperaktif)
|
Tampilan akhir
kecuali jika depresi atau apatis
|
Normal atau
hipoaktif
|
|
Halusinasi
|
Bisa ada
|
Biasanya tidak
ada
|
Tidak ada
|
|
Siklus tidur
bangun
|
Terganggu
|
Baik hingga akhir
|
Biasanya baik
|
|
Bicara
|
Inkoheren
|
Sulit
menemukan kata dan nama, afasia pada stage akhir
|
Lambat
|
2.7.
Penatalaksanaan
Delirium
1. Non
farmakologi
Pengobatan terutama pada pasien delirium
adalah untuk mengkoreksi kondisi medis yang menyebabkan gangguan-gangguan
utama. Langkah pertama pada tatalaksana pasien dengan delirium adalah melakukan
pemeriksaan yang seksama terhadap riwayat penderita, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan laboratorium. Informasi dari pasien tentang riwayat pasien
terdahulu maupun status penderita sekarang sangat membantu para praktisi medis
untuk melakukan tata laksana yang baik untuk mengobati delirium. Anamnesis
terbaik dari pasien delirium dapat menyingkirkan differensial diagnose lain
terutama hasil laboratorium juga dapat memperjelas etiologi dari delirium.
Pengobatan secara langsung baik
identifikasi dari underlying physical cause maupun menilai pengobatan
dari anxietas, distress, dan problem prilaku.
a. Pasien
perlu penentraman hati, dan reorientasi untuk mengurangi ansietas, cara ini
perlu dilakukan dengan sering.
b. Keluarga
pasien perlu diberitahukan dan diterangkan secara jelas mengenai penyakit
pasien agar mengurangi kecemasannya sehingga keluarga pasien dapat menolong
pasien dalam perawat menjadi lebih tenteram. Pada perawatan di rumah sakit
pasien sebaiknya dirawat di ruangan yang tenang juga cukup cahaya agar pasien
dapat tahu dimana dia berada namun dengan penerangan dimana tidak mengganggu
tidur pasien.
c. Keluarga
maupun teman perlu menemani dan menjenguk pasien.
d. Penting
untuk memberi sedapat mungkin sejak terjadi perburukan dari delirium.
2. Farmakologi
Dua gejala utama dari delirium yang
mungkin memerlukan pengobatan farmakologis adalah psikosis dan insomnia. Obat
yang terpilih untuk psikosis adalah
Haloperidol. Droperidol (Inapsine) adalah suatu butyrophenone yang tersedia
sebagai suatu formula intravena alternatif, walaupun monitoring elektrokardiogram
adalah sangat penting pada pengobatan ini. Golongan phenothiazine harus
dihindari pada pasien delirium karena obat tersebu disertai dengan aktivitas
antikolinergik yang bermakna. Insomnia
paling baik diobati dengan golongan benzodiazepine dengan waktu
paruh pendek atau dengan hydroxyzine (Vistaril), 25 sampai 100mg.
a. Pengobatan
termasuk pengobatan pada penyakit yang mendasari dan identifikasi medikasi yang
mempengaruhi derajat kesadaran.
b. Olanzapine
(Zyprexa) : adalah obat neuroleptik atipikal, dengan efek ekstrapiramidal yang
ringan, efektif untuk pengobatan delirium yang disertai agitasi. Dosisnya
dimulai dengan 2,5mg, dan meningkat sampai 20 mg PO jika dibutuhkan. Olanzepine
dapat menurunkan ambang kejang, namun sisanya dapat ditoleransi dengan cukup
baik.
c. Risperidone
(risperidal), juga efektif dan dapat ditoleransi dengan baik, dimulai dengan
0,5 mg dua kali sehari atau 1mg sebelum waktu tidur, meningkat sampai 3 mg 2
kali sehari jika dibutuhkan.
d. Haloperidol
(haldol), dpat digunakan dengan dosis yang rendah (0.5 mg sampai dengan 2 mg 2
kali sehari), jika dibutuhkan secara intravena. Efek samping ekstra pyramidal
dapat terjadi, dapat ditambahkan sedatif, misalnya lorazepam diawali 0,5 mg
sampai 1 mg setiap 3 sampai 8 jam jika dibutuhkan.
2.8.
Prognosis
Delirium
Setelah identifikasi
dan menghilangkan faktor penyebab, gejala delirium biasanya menghilang dalam
periode 3-7 hari, walaupun beberapa gejala mungkin membutuhkan waktu sampai 2
minggu untuk menghilang secara lengkap. Semakin lanjut usia pasien dan semakin
lama pasien mengalami delirium semakin lama waktu yang diperlukan bagi delirium
untuk menghilang. Ingatan tentang apa yang dialami selama delirium, jika
delirium telah berlalu, biasanya hilang timbul, dan pasien mungkin
menganggapnya sebagai mimpi buruk, sebagai pengalamanyang mengerikan yang hanya
diingat secara samar-samar.

Komentar
Posting Komentar