ANXIETAS
ANXIETAS
PENDAHULUAN
Gangguan
kecemasan adalah salah satu gangguan mental paling umum di populasi umum.
Hampir 30 juta orang terkena dampak di Amerika Serikat, dengan wanita yang
terkena hampir dua kali lebih sering daripada pria. Gangguan kecemasan
berhubungan dengan morbiditas yang signifikan dan sering kronis dan resisten
terhadap pengobatan.
Gangguan
kecemasan memiliki dampak yang tinggi pada kehidupan sehari-hari (gangguan
penyakit) dan menyebabkan banyak penderitaan bagi pasien individu. Mereka juga
memiliki dampak substansial secara ekonomi dan mengeluarkan banyak pengeluaran
oleh masyarakat secara keseluruhan.
Dalam
dekade terakhir beberapa studi epidemiologi besar telah memberikan banyak
informasi tentang terjadinya gangguan psikiatri pada umumnya dan gangguan
kecemasan pada khususnya.
Banyak
studi klinis lain dari populasi target spesifik telah menghasilkan banyak
informasi. Studi klinis sering mengungkapkan tingkat prevalensi yang berbeda
dan angka komorbiditas dari survei berbasis populasi dan ini sebagian
disebabkan oleh bias seleksi dan keparahan gejala, dan kriteria diagnostik dan
instrumen yang digunakan.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Adanya perasaan cemas atau khawatir
yang tidak realistik terhadap 2 atau lebih hal yang dipersepsi sebagai ancaman,
perasaan ini menyebabkan individu tidak mampu istirahat dengan tenang
(inability to relax).
2.2 Etiologi
1)
Teori Psikologis
Tiga
kelompok teori psikologis utama-psikoanalitik, perilaku dan eksistensial- telah
menyumbang teori mengenai penyebab ansietas.
a. Teori
Psikoanalitik
Walaupun
Sigmund Freud awalnya meyakini bahwa ansietas berasal dari penumpukan libido
fisiologis, ia akhirnya mendefinisikan kembali ansietas sebagai sinyal adanya
bahaya pada ketidaksadaran. Ansietas dipandang sebagai akibat konflik psikik
antara keinginan tidak disadari yang bersifat seksual atau agresif dan ancaman
terhadap hal tersebut dari superego atau realitas eksternal. Sebagai respons
terhadap sinyal ini, ego memobilisasi mekanisme pertahanan untuk mencegah
pikiran dan perasaan yang tidak dapat diterima agar tidak muncul ke kesadaran.
b. Teori
Perilaku-Kognitif
Menurut
teori ini, ansietas adalah respons yang dipelajari terhadap stimulus lingkungan
spesifik. Di dalam model pembelajaraan klasik, orang tanpa alergi makanan dapat
menjadi sakit setelah di restoran memakan kerang yang terkontaminasi. Pajanan
berikutnya terhadap kerang dapat menyebabkan orang ini merasa sakit. Melalui
generalisasi, mereka dapat menjadi tidak percaya pada makanan yang disiapkan
orang lain. Sebagai kemungkinan penyebab lain, mereka belajar memiliki respons
internal ansietas dengan meniru respons ansietas orang tua mereka (teori
pembelajaran sosial).
c. Teori
Eksistensial
Teori
eksistensial ansietas memberikan model untuk gangguan ansietas menyeluruh,
tanpa adanya stimulus spesifik yang dapat diidentifikasi untuk perasaan cemas
kronisnya. Konsep pusat teori eksistensial adalah bahwa orang menyadari rasa
kosong yang mendalam di dalam hidup mereka, perasaan yang mungkin bahkan lebih
membuat tidak nyaman daripada penerimaan terhadap kematian yang tidak dapat
dielakkan. Ansietas adalah respons mereka terhadap kehampaan yang luas mengenai
keberadaan dan arti.
2)
Teori Biologis
a. Sistem
Saraf Otonom
Sistem
saraf otonom pada sejumlah pasien dengan gangguan ansietas, terutama mereka
dengan gangguan panik, menunjukkan peningkatan tonus simpatik, beradaptasi
lambat terhadap stimulus berulang dan berespons berlebihan terhadap stimulus
sedang.
b. Neurotransmitter
Tiga neurotransmitter utama yang
terkait dengan ansietas berdasarkan studi hewan dan respons terhadap terapi
obat adalah norepinefrin, serotonin, dan γ-aminobutirat acid (GABA).
-
Norepinefrin
Teori umum mengenai peran norepinefrin dalam gangguan
ansietas adalah bahwa pasien yang mengalami ansietas dapat memiliki sistem
adrenergik yang diatur dengan buruk dengan ledakan aktivitas yang kadang-kadang
terjadi.
-
Serotonin
Sejumlah laporan menunjukkan bahwa m-klorofenilpiperazin (mCPP), yaitu obat dengn berbagai efek
serotonergik dan nonserotonergik, serta fenfluramin (Pondimin), yang
menyebabkan pelepasan serotonin, menimbulkan peningkatan ansietas pada pasien
dengan gangguan ansietas.
-
GABA
Dari beberapa studi yang telah dilakukan menyebabkan peneliti
untuk berhipotesis bahwa sejumlah pasien dengan gangguan ansietas memiliki
fungsi abnormal reseptor GABAA, walaupun hubungan ini belum terlihat
langsung.
c. Studi
Pencitraan Otak
Suatu
kisaran studi pencitraan otak, yang hampir selalu dilakukan pada gangguan
ansietas spesifik, menghasilkan beberapa kemungkinan petunjuk dalam memahami
gangguan ansietas. Pada satu studi MRI, defek spesifik lobus temporalis kanan
ditemukan pada pasien dengan gangguan panik.
d. Studi
Genetik
Studi
genetik telah menghasilkan data yang solid bahwa sedikitnya beberapa komponen
genetik turut berperan dalam timbulnya gangguan ansietas. Hampir separuh dari
semua pasien dengan gangguan panik setidaknya memiliki satu kerabat yang juga
mengalami gangguan tersebut.
e. Pertimbangan
Neuroanatomis
Locus
ceruleus dan raphe nuclei terutama menyalurkan impuls ke sistem limbic dan
korteks serebri. Dalam kombinasi dengan data dari studi pencitraan otak, area
ini menjadi focus banyak pembuatan hipotesis mengenai substrat neuroanatomis
gangguan ansietas.
2.3 Epidemiologi
Gangguan
ansietas merupakan kelompok gangguan psikiatri yang paling sering ditemukan. National Comorbidity Study melaporkan
bahwa satu di antara empat orang memenuhi kriteria untuk sedikitnya satu
gangguan ansietas dan terdapat angka prevalensi 12 bulan sebesar 17,7 persen.
Perempuan (prevalensi seumur hidup 30,5 persen) lebih cenderung mengalami
gangguan ansietas daripada laki-laki (prevalensi seumur hidup 19,2 persen).
Prevalensi gangguan ansietas menurun dengan meningkatnya status sosio-ekonomik.
2.4 Gejala
Klinis
Pengalaman
ansietas memiliki dua komponen: kesadaran akan sensasi fisiologis (seperti
palpitasi dan berkeringat) serta kesadaran bahwa ia gugup atau ketakutan.
Selain pengaruh viseral dan motorik, ansietas memengaruhi pikiran, persepsi dan
pembelajaran. Ansietas cenderung menimbulkan kebingungan dan distorsi persepsi,
tidak hanya persepsi waktu dan ruang tetapi juga orang dan arti peristiwa.
Distorsi ini dapat mengganggu proses pembelajaran dengan menurunkan
konsentrasi, mengurangi daya ingat dan mengganggu kemampuan menghubungkan satu
hal dengan hal lain-yaitu membuat asosiasi.
Aspek
penting emosi adalah efeknya pada selektivitas perhatian. Orang yang mengalami
ansietas cenderung memperhatikan hal tertentu di dalam lingkungannya dan
mengabaikan hal lain dalam upaya untuk membuktikan bahwa mereka dibenarkan
untuk menganggap situasi tersebut menakutkan. Jika keliru dalam membenarkan
rasa takutnya, mereka akan meningkatkan ansietas dengan respons yang selektif
dan membentuk lingkaran setan ansietas, persepsi yang mengalami distorsi dan
ansietas yang meningkat. Jika sebaliknya, mereka dengan keliru menentramkan
diri mereka dengan pikiran selektif, ansietas yang tepat dapat berkurang dan
mereka dapat gagal mengambil tindakan pertahanan yang perlu.
Tabel 2.1 Manifestasi Perifer Ansietas
|
Diare
Pusing,
kepala terasa ringan
Hyperhidrosis
Hiperrefleksia
Hipertensi
Palpitasi
Midriasis
pupil
Gelisah
(cth., berjalan mondar-mandir)
Sinkop
Takikardia
Kesemutan
di ekstremitas
Tremor
Gangguan
perut (“seperti ada kupu-kupu”)
Frekuensi,
hesitansi dan urgensi uri
|
2.5 Klasifikasi
Menurut Halter ada 4 klasifikasi tingkat ansietas yaitu ansietas
ringan, ansietas sedang, ansietas berat, dan panik.
a)
Ansietas
Ringan
Penyebab dari ansietas ringan
biasanya karena pengalaman kehidupan sehari-hari dan memungkinkan individu
menjadi lebih fokus pada realitas. Individu akan mengalami ketidaknyamanan,
mudah marah, gelisah, atau adanya kebiasaan untuk mengurangi ketegangan
(seperti menggigit kuku, menekan jari-jari kaki atau tangan). Menurut Asmadi,
respons fisiologis yang terjadi pada ansietas ringan yaitu nadi dan tekanan
darah sedikit meningkat, adanya gangguan pada lambung, muka berkerut, dan bibir
bergetar.Respons kognitif dan afektif yang terjadi yaitu gangguan konsentrasi,
tidak dapat duduk tenang, dan suara kadang-kadang meninggi.
b)
Ansietas
Sedang
Pada ansietas sedang, lapang pandang
individu menyemit. Selain itu individu mengalami penurunan pendengaran,
penglihatan, kurang menangkap informasi dan menunjukkan kurangnya perhatian
pada lingkungan. Terhambatnya kemampuan untuk berpikir jernih, tapi masih ada
kemampuan untuk belajar dan memecahkan masalah meskipun tidak optimal. Respons
fisiologis yang dialami yaitu jantung berdebar, meningkatnya nadi dan
respiratory rate, keringat dingin, dan gejala somatik ringan (seperti gangguan
lambung, sakit kepala, sering berkemih). Terdengar suara sedikit bergetar.
Ansietas ringan atau ansietas sedang dapat menjadi sesuatu yang membangun
karena kecemasan yang terjadi merupakan sinyal bahwa individu tersebut
membutuhkan perhatian atau kehidupan individu tersebut dalam keadan bahaya.
c)
Ansietas
Berat
Semakin tinggi level ansietas, maka
lapang pandang seseorang akan semakin menurun atau menyempit. Seseorang yang
mengalami ansietas berat hanya mampu fokus pada satu hal dan mengalami
kesulitan untuk memahami apa yang terjadi. Pada level ini individu tidak
memungkinkan untuk belajar dan memecahkan masalah, bahkan bisa jadi individu
tersebut linglung dan bingung. Gejala somatik meningkat, gemetar, mengalami
hiperventilasi, dan mengalami ketakutan yang besar.
d)
Panik
Individu yang mengalami panik sulit
untuk memahami kejadian di lingkungan sekitar dan kehilangan rangsangan pada
kenyataan. Kebiasaan yang muncul yaitu mondar-mandir, mengamuk, teriak, atau
adanya penarikan dari lingkungan sekitar. Adanya halusinasi dan persepsi
sensorik yang palsu (melihat seseorang atau objek yang tidak nyata). Tidak
terkoordinasinya fisiologis dan adanya gerakan impulsif. Pada tahap panik ini
individu dapat mengalami kelelahan.
Menurut Maramis, gangguan panik
ditandai dengan serangan ansietas sekitar 15-30 menit per episode. Selama
serangan panik, individu merasa sangat ketakutan disertai jantung berdebar,
nyeri dada, perasaan tercekik, berkeringat, gemetar, mual, pusing, perasaan
yang tidak real, dan takut mati. Serangan panik dapat terjadi secara spontan.
Frekuensinya bervariasi tiap individu.
2.6 Diagnosis
Menurut
PPDGJ III, diagnosis gangguan ansietas terbagi atas:
1) F40
Gangguan Ansietas Fobik
-
Ansietas dicetuskan oleh adanya situasi
atau objek yang jelas (dari luar individu itu sendiri), yang sebenarnya pada
saat kejadian ini tidak membahayakan.
Kondisi
lain (dari diri individu itu sendiri) seperti perasaan takut akan adanya
penyakit (nosofobia) dan ketakutan akan perubahan bentuk badan (dismorfofobia)
yang tak realistik dimasukkan dalam klasifikasi F45.2 (gangguan hipokondrik).
-
Sebagai akibatnya, objek atau situasi
tersebut dihindari atau dihadapi
dengan rasa terancam.
-
Secara subjektif, fisiologik dan
tampilan perilaku, ansietas fobik tidak berbeda dari ansietas yang lain dan
dapat dalam bentuk yang ringan sampai yang berat (serangan panik).
-
Ansietas fobik seringkali berbarengan (coexist) dengan depresi.
Suatu episode depresif seringkali memperburuk keadaan ansietas fobik yang sudah
ada sebelumnya. Beberapa episode depresif dapat disertai ansietas fobik yang
temporer, sebaliknya afek depresif seringkali menyertai berbagai fobia,
khususnya agorafobia. Pembuatan diagnosis tergantung dari mana yang jelas-jelas
timbul lebih dahulu dan mana yang lebih dominan pada saat pemeriksaan.
2) F40.0
Agorafobia
Pedoman
Diagnostik
-
Semua kriteria dibawah ini harus
dipenuhi untuk diagnosis pasti:
(a) Gejala
psikologis, perilaku atau otonomik yang timbul harus merupakan manifestasi primer dari ansietasnya dan bukan sekunder dari gejala-gejala lain
seperti misalnya waham atau pikiran obsesif;
(b) Ansietas
yang timbul harus terbatas pada (terutama terjadi dalam hubungan dengan)
setidaknya dua dari situasi berikut ini: banyak
orang / keramaian, tempat umum, bepergian keluar rumah dan bepergian sendiri;
dan
(c) Menghindari
situasi fobik harus atau sudah merupakan gejala yang menonjol (penderita menjadi
“housebound”).
Karakter
kelima: F40.00 = Tanpa gangguan panik
F40.01 = Dengan gangguan panik
3) F40.1
Fobia Sosial
Pedoman
Diagnostik
-
Semua kriteria dibawah ini harus
dipenuhi untuk diagnosis pasti:
(a) Gejala
psikologis, perilaku atau otonomik yang timbul harus merupakan manifestasi primer dari ansietasnya dan
bukan sekunder dari gejala-gejala lain seperti misalnya waham atau pikiran
obsesif;
(b) Ansietas
harus mendominasi atau terbatas pada situasi
sosial tertentu (outside the
family circle); dan
(c) Menghindari
situasi fobik harus atau sudah merupakan gejala yang menonjol.
-
Bila terlalu sulit membedakan antara
fobia sosial dengan agorafobia, hendaknya diutamakan diagnosis agoraphobia (F40.0).
4) F40.2
Fobia Khas (Terisolasi)
Pedoman
Diagnostik
-
Semua
Kriteria di bawah ini harus dipenuhi untuk diagnosis pasti:
(a) Gejala psikologis, perilaku atau
otonomik yang timbul harus merupakan manifestasi
primer dari ansietasnya dan bukan sekunder dari gejala-gejala lain seperti
misalnya waham atau pikiran obsesif;
(b) Ansietas harus terbatas pada adanya objek atau situasi fobik tertentu (highly
specific situation); dan
(c) Situasi fobik tersebut sedapat
mungkin dihindarinya.
-
Pada
fobia khas ini umumnya tidak ada gejala psikiatrik lain, tidak seperti
agarofobia dan fobia sosial.
5) F40.8 Gangguan Ansietas Fobik
Lainnya
6) F40.9 Gangguan Ansietas Fobik YTT
7) F41 Gangguan Ansietas Lainnya
-
Manifestasi
ansietas merupakan gejala utama dan tidak
terbatas (not restricted) pada situasi lingkungan tertentu saja.
-
Dapat
disertai gejala-gejala depresif dan obsesif, bahkan beberapa unsur dari ansietas
fobik, asal saja jelas bersifat sekunder atau ringan.
8) F41.0 Gangguan Panik (Ansietas
Paroksismal Episodik)
Pedoman Diagnostik
-
Gangguan
panik baru ditegakkan sebagai diagnosis utama bila tidak ditemukan adanya
gangguan ansietas fobik (F40.-)
-
Untuk
diagnostik pasti, harus ditemukan adanya beberapa kali serangan ansietas berat
(severe attacks of autonomic anxiety) dalam masa kira-kira satu bulan:
(a) Pada keadaan-keadaan diman
sebenarnya secara objektif tidak ada bahaya;
(b) Tidak terbatas pada situasi yang
telah diketahui atau dapat diduga sebelumnya (unpredictable situations);
(c) Dengan keadaan yang relatif bebas
dari gejala-gejala ansietas pada periode di antara serangan-serangan panik
(meskipun demikian, umumnya dapat terjadi “ansietas
antisipatorik”, yaitu ansietas yang terjadi setelah membayangkan sesuatu
yang mengkhawatirkan akan terjadi).
9) F41.1 Gangguan Cemas Menyeluruh
Pedoman Diagnostik
-
Penderita
harus menunjukkan anxietas sebagai gejala primer yang berlangsung hampir setiap
hari untuk beberapa minggu sampai beberapa bulan, yang tidak terbatas atau
hanya menonjol pada keadaan situasi khusus tertentu saja (sifatnya “free floating” atau “mengambang”).
-
Gejala-gejala
tersebut biasanya mencakup unsur-unsur berikut:
(a) Kecemasan (khawatir akan nasib
buruk, merasa seperti di ujung tanduk, sulit konsentrasi dsb.);
(b) Ketegangan motorik (gelisah, sakit
kepala, gemetaran, tidak dapat santai); dan
(c) Overaktivitas otonomik (kepala
terasa ringan, berkeringat, jantung berdebar-debar, sesak nafas, keluhan
lambung, pusing kepala, mulut kering, dsb).
-
Pada
anak-anak sering terliahat adanya kebutuhan berlebihan, untuk ditenangkan
(reassurance) serta keluhan-keluhan somatik yang menonjol.
-
Adanya
gejala-gejala lain yang sifatnya sementara (untuk beberapa hari), khususnya
depresi, tidak membatalkan diagnosis utama yakni gangguan ansietas menyeluruh,
selama hal tersebut tidak memenuhi kriteria lengkap dari episode depresif
(F32.-), gangguan ansietas fobik (F40.-), gangguan panik (F41.0) atau gangguan
obsesif-komfulsif (F42.-).
10) F41.2 Gangguan Campuran Ansietas dan
Depresi
Pedoman Diagnostik
-
Terdapat
gejala-gejala ansietas maupun depresi, dimana masing-masing tidak menunjukkan
rangkaian gejala yang cukup berat untuk menegakkan diagnosis tersendiri. Untuk
ansietas, beberapa gejala otonomik harus ditemukan walaupun tidak terus
menerus, disamping rasa cemas atau kekhawatiran berlebihan.
-
Bila
ditemukan ansietas berat disertai depresi yang lebih ringan, maka harus dipertimbangkan
kategori gangguan ansietas lainnya atau gangguan ansietas fobik.
-
Bila
ditemukan sindrom depresi dan ansietas yang cukup berat untuk menegakkan
masing-masing diagnosis, maka kedua diagnosis tersebut harus dikemukakan, dan
diagnosis gangguan campuran tidak dapat digunakan. Jika karena suatu hal hanya
dapat dikemukakan satu diagnosis maka gangguan
depresif harus diutamakan.
-
Bila
gejala-gejala tersebut berkaitan erat dengan stres kehidupan yang jelas, maka
harus digunakan kategori F43.2 gangguan penyesuaian.
11) F41.3 Gangguan Ansietas Campuran
Lainnya
Pedoman Diagnostik
-
Memenuhi
kriteria gangguan ansietas menyeluruh (F41.1) dan juga menunjukkan (meskipun
hanya dalam jangka pendek) ciri-ciri yang menonjol dari kategori gangguan
F40-F49, akan tetapi tidak memenuhi kriterianya secara lengkap.
-
Bila
gejala-gejala yang memnuhi kriteria dari kelompok gangguan ini terjadi dalam
kaitan dengan perubahan atau stress kehidupan yang bermakna, maka dimasukkan
dalam kategori F43.2, gangguan penyesuaian.
12) F41.8 Gangguan Ansietas Lainnya YDT
13) F41.9 Gangguan Ansietas YTT
2.7 Diagnosis
Banding
- Diagnosis Banding Agorafobia tanpa Riwayat Gangguan Panik
Diagnosis banding agorafobia tanpa
riwayat gangguan panik mencakup semua gangguan medis yang dapat menyebabkan
ansietas atau depresi. Diagnosis banding psikiatri mencakup gangguan depresif
berat, skizofrenia, gangguan kepribadian paranoid, gangguan kepribadian
menghindar dan gangguan kepribadian dependent.
- Diagnosis Banding Fobia Sosial dan Fobia Khas
Skizofrenia juga dimasukkan dalam
diagnosis banding fobia sosial dan fobia khas, karena pasien skizofrenik dapat
memiliki gejala fobik sebagai bagian dari psikosisnya.
Dua pertimbangan diagnosis banding
tambahan fobia sosial adalah gangguan depresif berat dan gangguan kepribadian
skizoid.
Diagnosis lain untuk dipertimbangkan
dalam diagnosis banding fobia khas adalah hipokondriasis, gangguan obsesif
kompulsif dan gangguan kepribadian paranoid.
- Diagnosis Banding Gangguan Panik
Diagnosis banding pasien dengan
gangguan panik mencakup sejumlah besar gangguan medis dan banyak gangguan jiwa.
Tabel 2.2 Diagnosis Banding Organik
Gangguan Panik
|
Penyakit kardiovaskular
|
|
|
Anemia
Angina
Gagal jantung kongestif
Keadaan hiperaktif β-adrenergik
|
Hipertensi
Prolaps katup mitral
Infark miokardium
Takikardi atrium paradoksal
|
|
Penyakit paru
|
|
|
Asma
Hiperventilasi
|
Embolus paru
|
|
Penyakit neurologis
|
|
|
Penyakit serebrovaskular
Epilepsi
Penyakit Huntington
Infeksi
Penyakit Meniere
|
Migrain
Sklerosis multipel
Transient
ischemic attack
Tumor
Penyakit Wilson
|
|
Penyakit endokrin
|
|
|
Penyakit Addison
Sindrom karsinoid
Sindrom Cushing
Diabetes
Hipertiroidisme
|
Hipoglikemia
Hipoparatiroidisme
Gangguan menopause
Feokromositoma
Sindrom pramenstruasi
|
|
Intoksikasi obat
|
|
|
Amfetamin
Amil nitrit
Antikolinergik
Kokain
|
Halusinogen
Mariyuana
Nikotin
Teofilin
|
|
Gejala putus obat
|
|
|
Alkohol
Antihipertensi
|
Opiat dan opioid
Sedatif-hipnotik
|
|
Keadaan lain
|
|
|
Anafilaksis
Defisiensi B12
Gangguan eletrolit
Keracunan logam berat
|
Infeksi sistemik
Eritematosus lupus sistemik
Arteritis temporal
Uremia
|
Diagnosis banding psikiatri gangguan
panik mencakup malingering, gangguan
buatan, hipokondriasis, gangguan depersonalisasi, fobia sosial dan khas,
gangguan stres pascatrauma, gangguan depresif dan skizofrenia.
2.8 Penatalaksanaan
- Gangguan Panik dan Agorafobia
Dengan pengobatan, sebagian besar pasien menunjukkan peningkatan dramatis
pada gejala gangguan panik dan agoraphobia. Dua perawatan yang paling efektif
adalah farmakoterapi dan terapi perilaku kognitif. Terapi keluarga dan kelompok
dapat membantu pasien dan keluarganya menyesuaikan diri dengan kenyataan bahwa
pasien memiliki gangguan dan menyesuaikan diri dengan kesulitan psikososial
yang dapat dicetuskan gangguan tersebut.
a. Farmakokinetik
-
Selective Serotonin Reuptake
Inhibitor
Semua SSRI efektif
untuk gangguan panik. Paroxetine memiliki efek sedatif dan cenderung untuk
menenangkan pasien dengan segera, yang mengarah pada kepatuhan yang lebih besar
dan lebih sedikit penghentian. Citalopram, escitalopram (Lexapro), fluvoxamine,
dan sertraline adalah obat yang paling baik
ditoleransi.
-
Benzodiazepin
Benzodiazepin
memiliki onset aksi yang paling cepat terhadap kepanikan, seringkali dalam
minggu pertama, dan dapat digunakan untuk waktu yang lama tanpa pengembangan
toleransi terhadap efek antipanik. Alprazolam telah menjadi benzodiazepine yang
paling banyak digunakan untuk gangguan panik, tetapi penelitian terkontrol
telah menunjukkan efisiensi yang sama untuk lorazepam (Ativan), dan laporan
kasus juga menunjukkan bahwa clonazepam mungkin efektif.
-
Obat Trisiklik
dan Tetrasiklik
Data yang paling
kuat menunjukkan bahwa di antara obat-obatan trisiklik, clomipramine dan
imipramine (Tofranil) adalah yang paling efektif dalam pengobatan gangguan
panik. Pengalaman klinis menunjukkan bahwa dosis harus dinaikkan perlahan untuk
menghindari rangsangan berlebihan dan bahwa seluruh
manfaat
klinis memerlukan dosis utuh dan mungkin belum dicapai selama 8 hingga 12
minggu. Obat trisiklik lebih jarang
digunakan daripada SSRI karena obat trisiklik umumnya memiliki efek samping
yang lebih parah pada dosis yang lebih tinggi yang diperlukan untuk pengobatan yang efektif bagi gangguan panik.
-
Monoamine Oxidase Inhibitors
MAOI tampaknya
lebih jarang menyebabkan stimulasi berlebihan daripada SSRI atau obat
trisiklik, tetapi obat ini memerlukan dosis penuh setidaknya 8 hingga 12 minggu
agar efektif.
b.
Terapi Perilaku
dan Kognitif
Terapi kognitif dan perilaku adalah perawatan yang efektif untuk gangguan
panik. Berbagai respons disimpulkan bahwa terapi kognitif dan perilaku lebih
unggul daripada farmakoterapi saja; laporan lain menyimpulkan sebaliknya.
Beberapa penelitian dan laporan telah menemukan bahwa kombinasi terapi kognitif
atau perilaku dengan farmakoterapi lebih efektif daripada terapi itu secara
tersendiri. Beberapa penelitian yang termasuk tindak lanjut jangka panjang
pasien yang menerima terapi kognitif atau perilaku menunjukkan bahwa terapi
efektif dalam menghasilkan remisi gejala yang bertahan lama.
-
Terapi Kognitif
Dua fokus utama
terapi kognitif untuk gangguan panik adalah instruksi tentang keyakinan palsu
pasien dan informasi tentang serangan panik.
-
Aplikasi
Relaksasi
Tujuan aplikasi relaksasi (misalnya, pelatihan relaksasi Herbert Benson)
adalah memberikan pasien rasa kendali mengenai tingkat kecemasan dan relaksasi.
Melalui penggunaan teknik standar relaksasi otot dan membayangkan situasi
santai, pasien belajar teknik yang dapat membantu mereka melewati serangan
panik.
-
Pelatihan
Pernapasan
Karena
hiperventilasi yang berhubungan dengan serangan panik mungkin berkaitan dengan
beberapa gejala, seperti pusing dan pingsan, satu pendekatan langsung untuk
mengendalikan serangan panik adalah melatih pasien untuk mengendalikan dorongan
untuk hiperventilasi. Setelah pelatihan tersebut, pasien dapat menggunakan
teknik ini untuk membantu mengontrol hiperventilasi selama serangan panik.
-
Pajanan In Vivo
Teknik ini meliputi
pemajanan pasien terhadap stimulus yang ditakuti
yang semakin lama semakin berat; dari waktu ke waktu, pasien menjadi mengalami desentisasi terhadap pengalaman.
Sebelumnya, fokusnya adalah pada rangsangan eksternal; baru-baru ini, teknik
ini telah mencakup pajanan sensasi internal yang ditakuti pasien (misalnya,
takipnea dan rasa takut mengalami
serangan panik).
c.
Terapi
Psikososial Lain
-
Teknik Keluarga
Keluarga pasien dengan gangguan panik dan agorafobia
juga mungkin telah dipengaruhi oleh gangguan anggota keluarga. Terapi keluarga
yang ditujukan pada edukasi dan dukungan sering bermanfaat.
-
Psikoterapi
Berorientasi Tilikan
Terapi berfokus membantu pasien mengerti arti
ansietas yang tidak disadari yang telah dihipotesiskan, simbolisme situasi yang
dihindari, kebutuhan untuk menekan impuls dan keuntungan sekunder gejala
tersebut.
-
Psikoterapi
Kombinasi dan Farmokoterapi
Psikoterapi dibutuhkan untuk menterapi gejala
sekunder. Intervensi psikoterapeutik membantu pasien menghadapi rasa takut
keluar rumah. Di samping itu, beberapa pasien akan menolak obat karena yakin
bahwa obat akan menstigmatisasi mereka sebagai orang sakit jiwa sehingga
intervensi terapeutik dibutuhkan untuk membantu mengerti dan menghilangkan resistensi
mereka terhadap farmakoterapi.
- Fobia Sosial dan Fobia Khas
a.
Terapi Perilaku
Terapi yang paling
banyak dipelajari dan paling efektif untuk fobia mungkin adalah terapi perilaku.
Aspek kunci keberhasilan terapi adalah (1) komitmen pasien terhadap terapi, (2)
masalah dan tujuan yang teridentifikasi jelas, (3) strategi alternatif yang
tersedia untuk menghadapi perasaannya. Berbagai teknik terapi perilaku telah
dilakukan, yang paling lazim adalah desensitisasi sistemik, suatu metode yang
dipelopori Joseph Wolpe. Pada metode ini, pasien secara serial dipajankan pada
daftar stimulus penginduksi ansietas yang telah ditentukan sebelumnya dan
diberi tingkatan hirarki dari yang paling tidak menakutkan sampai yang paling
menakutkan. Melalui penggunaan obat penenang, hipnosis dan instruksi untuk
relaksasi otot, pasien diajari cara menenangkan sendiri jiwa dan raga. Saat
mereka telah menguasai teknik ini, pasien diminta menimbulkan relaksasi saat
menghadapi setiap stimulus yang mencetuskan ansietas. Ketika mereka telah
menjadi terdesensitisasi dengan setiap stimulus di dalam skala itu, pasien
berlanjut ke stimulus berikutnya hingga akhirnya, yang sebelumnya menimbulkan
ansietas tidak lagi bisa mencetuskan pengaruh menyakitkan.
b.
Psikoterapi
Berorientasi-Tilikan
Terapi berorientasi
tilikan memungkinkan pasien mengerti asal fobia, fenomena keuntungan sekunder
dan peranan pertahanan serta memungkinkan mereka mencari cara sehat untuk
menghadapistimulus yang mencetuskan ansietas.
c.
Modalitas
Terapeutik Lainnya
Hipnosis, terapi
suportif dan terapi keluarga dapat berguna dalam terapi gangguan fobik.
Hipnosis digunakan untuk memperkuat saran terapis bahwa objek fobik tidak
berbahaya dan hipnosis diri sendiri dapat diajarkan pada pasien sebagai metode
relaksasi ketika dihadapkan dengan objek fobik. Psikoterapi suportif dan terapi
keluarga sering berguna dalam membantu pasien secara aktif untuk menghadapi
objek fobik selama terapi. Terapi ini tidak hanya untuk memperoleh bantuan
keluarga dalam menerapi pasien tetapi juga dapat membantu keluarga mengerti
sifat masalah pasien.
1)
Fobia Sosial
Psikoterapi dan
farmakoterapi berguna dalam terapi fobia sosial dan berbagai pendekatan
diindikasikan untuk tipe menyeluruh dan untuk situasi penampilan. Sejumlah
studi menunjukkan bahwa penggunaan farmakoterapi dan psikoterapi memberikan
hasil yang lebih baik daripada terapi itu secara tersendiri walaupun temuan
mungkin tidak dapat diterapkan pada semua situasi dan pasien.
Obat yang efektif untuk
terapi fobia sosial mencakup (1) SSRI, (2) benzodiazepine, (3) venlafaksin
(Effexor) dan (4) buspiron (BusPar).
Pada kasus berat,
terapi fobia sosial yang berhasil dengan MAOI ireversibel, seperti fenelzin
(Nardil) dan reversible inhibitors of monoamine oxidase (RIMA), seperti
moclobemide (Aurorix) dan brofaromin (Consonar) telah dilaporkan. Dosis
terapeutik fenelzin berkisar dari 45 hingga 90 mg per hari, dengan angka
respons berkisar dari 50hingga 70 persen dan sekitar 5 sampai 6 minggu
diperlukan untuk menilai efektivitas.
Terapi fobia sosial
yang terkaitkan dengan situasi penampilan sering melibatkan penggunaan
antagonis reseptor β-adrenergik segera sebelum pajanan terhadap stimulus fobik.
Dua senyawa yang paling luas digunakan adalah atenolol (Tenormin), 50 sampai
100 mg tiap pagi atau 1 jam sebelum penampilan dan propranolol (20 sampai 40
mg). teknik kognitif, perilaku dan pajanan juga dapat berguan di dalam situasi
penampilan.
2)
Fobia Khas
Di antara psikoterapi,
terapi yang paling lazim digunakan untuk fobia khas adalah terapi pajanan. Pada
metode ini, terapis mendesensitisasi pasien dengan menggunakan serangkaian
pajanan bertingkat yang ditingkatkan sendiri oleh pasien terhadap stimulus
fobik dan mereka mengajarkan pasien berbagai teknik menghadapi ansietas
termasuk relaksasi, kendali pernapasan dan pendekatan kognitif. Antagonis
β-adrenergik dapat berguna dalam terapi khas, terutama ketika fobia disertai
serangan panik. Farmakoterapi (cth: benzodiazepine), psikoterapi atau terapi
gabungan yang ditujukan untuk serangan mungkin juga berguna.
2.9 Prognosis
1) Agorafobia
Sebagian besar kasus agorafobia
dianggap disebabkan gangguan panik. Ketika gangguan panik diobati, agorafobia
sering membaik seiring waktu. Untuk perbaikan agorafobia yang cepat dan
sempurna, kadang-kadang diindikasikan terapi perilaku. Agorafobia tanpa riwayat
gangguan panik sering menimbulkan ketidakmampuan dan bersifat kronis, serta
gangguan depresif dan ketergantungan alkohol sering mempersulit perjalanan
gangguan.
2) Fobia sosial
Fobia sosial cenderung menjadi
gangguan kronis walaupun seperti gangguan ansietas lain. Gangguan dapat sangat
mengganggu kehidupan orang selama bertahun-tahun. Hal ini dapat mencakup
gangguan pencapian akademik atau sekolah, gangguan kinerja pekerjaan dan
perkembangan sosial.
3) Fobia khas
Karena pasien dengan fobia khas (terisolasi)
jarang datang untuk terapi, riset perjalanan gangguan di klinik terbatas. Fobia
khas dimulai pada masa kanak-kanak dan bertahan hingga dewasa akan terus ada
hingga beberapa tahun. Keparahan keadaan ini dianggap tetap relatif konsisten
tanpa perjalanan penyakit yang membaik dan memburuk yang terlihat pada gangguan
ansietas lain.
4) Gangguan panik
Gangguan panik, umumnya adalah
gangguan yang kronis, walaupun perjalanan gangguannya bervariasi di antara
sesama pasien maupun pada seorang pasien. Sekitar 30 sampai 40 persen pasien
tampak bebas gejala pada pengamatan jangka panjang; sekitar 50 persen memiliki
gejala yang cukup ringan sehingga tidak mengganggu kehidupan mereka secara
signifikan; dan sekitar 10 hingga 20 persen terus mengalami gejala yang
bermakna.

Komentar
Posting Komentar