DEMENSIA









BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar belakang
Demensia adalah sebuah sindrom karena penyakit otak, bersifat kronis atau progresif dimana ada banyak gangguan fungsi kortikal yang lebih tinggi, termasuk memori, berpikir, orientasi, pemahaman, perhitungan, belajar,kemampuan, bahasa, dan penilaian kesadaran tidak terganggu. Gangguan fungsi kognitif yang biasanya disertai, kadang-kadang didahului, oleh kemerosotan dalam pengendalian emosi, perilaku sosial, atau motivasi. Sindrom terjadi pada penyakit Alzheimer, di penyakit serebrovaskular dan dalam kondisi lain terutama atau sekunder yang mempengaruhi otak.
Berdasarkan sejumlah hasil penelitian diperoleh data bahwa dimensia seringkali terjadi pada usia lanjut yang telah berumur kurang lebih 60 tahun. Dimensia tersebut dapat dibagi menjadi 2 kategori, yaitu: 1) Dimensia Senilis (60 tahun); 2) Demensia Pra Senilis (60 tahun). Sekitar 56,8% lansia mengalami demensia dalam bentuk Demensia Alzheimer (4% dialami lansia yang telah berusia 75 tahun, 16% pada usia 85 tahun, dan 32% pada usia 90 tahun). Sampai saat ini diperkirakan +/- 30 juta penduduk dunia mengalami Demensia dengan berbagai sebab.
Pertambahan jumlah lansia Indonesia, dalam kurun waktu tahun 1990 – 2025, tergolong tercepat di dunia. Jumlah sekarang 16 juta dan akan menjadi 25,5 juta pada tahun 2020 atau sebesar 11,37 % penduduk dan ini merupakan peringkat ke empat dunia, dibawah Cina, India dan Amerika Serikat. Sedangkan umur harapan hidup berdasarkan sensus BPS 1998 adalah 63 tahun untuk pria dan 67 tahun untuk perempuan, usia harapan hidup orang Indonesia rata-rata adalah 59,7 tahun dan menempati urutan ke 103 dunia, dan nomor satu adalah Jepang dengan usia harapan hidup rata-rata 74,5 tahun).
Gejala awal gangguan ini adalah lupa akan peristiwa yang baru saja terjadi, tetapi bisa juga bermula sebagai depresi, ketakutan, kecemasan, penurunan emosi atau perubahan kepribadian lainnya. Terjadi perubahan ringan dalam pola berbicara, penderita menggunakan kata-kata yang lebih sederhana,menggunakan kata-kata yang tidak tepat atau tidak mampu menemukan kata-kata yang tepat.Ketidak mampuan mengartikan tanda-tanda bisa menimbulkan kesulitan dalam mengemudikan kendaraan. Pada akhirnya penderita tidak dapat menjalankan fungsi sosialnya.
Demensia banyak menyerang mereka yang telah memasuki usia lanjut.Bahkan, penurunan fungsi kognitif ini bisa dialami pada usia kurang dari 50tahun. Sebagian besar orang mengira bahwa demensia adalah penyakit yang hanya diderita oleh para Lansia, kenyataannya demensia dapat diderita oleh siapa saja dari semua tingkat usia dan jenis kelamin. Untuk mengurangi risiko, otak perlu dilatih sejak dini disertai penerapan gaya hidup sehat.
 
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1  Definisi
Demensia merupakan suatu sindrom akibat penyakit/gangguan otak yang biasanya bersifat kronik progresif, dimana terdapat gangguan fungsi luhur kortikal yang multipel (multipel higher orientasi, daya tangkap (comprehension), berhitung, kemampuan belajar, berbahasa, dan daya nilai (judgment).
Umumnya disertai, dan ada kalanya di awali, dengan kemerosotan (deterioreting) dalam pengendalian emosi, perilaku sosial, atau motivasi hidup.
2.2   Epidemiologi
Demensia pada dasarnya adalah penyakit kaum lansia. Menurut Practice Guideline for the Treatment of Patients with Alzheimer’s Disease and other Dementias of Late Life  dari the American Psychiatric Association (APA), awitan penyakit ini umumnya paling kerap terjadi pada usia 60-an, 70-an, dan 80-an ke atas. Namun pada kasus yang jarang gangguan ini muncul pada usia 40-an dan 50-an (disebut sebagai demensia awitan dini). Insidens penyakit Alzheimer juga meningkat seiring dengan pertambahan usia. Dan diperkirakan angknya 0,5 persen pertahun dari usia 65 sampai 69.1 persen pertahun dari usia 70 sampai 74,2 persen per tahun dari usia 75 sampai 79. 3 persen pertahun dari usia 80 sampai 84 dan 8 persen pertahun dari usia 85 keatas. Progresinya bertahap namun terus menurun. Taksiran kematian sejak awitan gejala sebelumnya diperkirakan antara 5-9 tahun.
Tipe demensia tersering kedua adalah demensia vaskular. Yang secara kausatif berhubungan dengan penyakit serebrovaskular. Hipertensi membuat seseorang memiliki predisposisi terhadap penyakit ini. Demensia vaskular paling sering terjadi pada orang berusia antara 60 sampai 70 tahun dan lebih kerap pada pria di banding wanita.
Penyebab demensia lain yang juga sering,masing-masing meliputi 1 sampai 5 persenseluruh kasus, adalah trauma kepala, demensia alkohol, dan berbagai demensia terkait gangguan pergerakan seperti penyakit huntington dan penyakit parkinson karena merupakan sindrom yang relatif umum.
2.3  Etiologi
Demensia memiliki banyak penyebab, namun demensia tipe alzheimer dan demensia vaskular secara bersama-sama mencangkup hingga 75 persen kasus. Kausa demensia lain yang dirinci dalam DSM-IV –TR adalah penyakit piek, penyakit huntington, penyakitparkinson, HIVdan trauma kepala.
a.       Demensia tipe alzheimer
Diagnosis akhir penyakit alzheimer di dasarkan atas pemeriksaan neuropatologis otak, meski demikian, demensia tipe Alzheimer biasanya di diagnosis secara klinis setelah kausa demensia lain di singkirkan dari petimbangan diagnosis.
Ø  Faktor genetis
Sejumlahstudi mengindikasikan bahwa sebanyak 40 persen pasien memiliki riwayat keluarga dengan demensia tipe Alzheimer. Oleh karena itu faktor genetik dianggap memainkan peran dalam munculnya gangguan ini. Dukungan lainnya adanya pengaruh genetik adalah angka kejadian bersama pada kembar monozigotik yang lebih tinggi daripada angka untuk kemar dizigotik. Gangguan ini diturunkan dalam keluarga melalui gen autosom dominan. Demensia tipe Alzheimer terbukti berhubungan dengan kromosom 1, 14 dan 21.
Ø  Neurotransmiter
Neurotransmiter yang paling sering disangkut pautkan dalam patofisiologi penyakit Alzheimer adalah asetilkolin dan norepinefrin, yang keduanya dihipotesiskan menjadi hipoaktif pada penyakit Alzheimer. Sejumlah studi telah melaporkan data yang konsisten dengan hipotesis bahwa terjadi degenerasi spesifik neuron kolinergik pada penyakit Alzheimer adalah data yang menunjukkan penurunan konsentrasi asetilkolin dan kolin asetiltransferase memberi kesan berkurang nya sejumlah neuron kolinergik yang tersedia.
b.      Taupati sistem familial multipel dengan demensia prasenilis
Gen yang menyebabkan gangguan ini diperkirakan bahwa dalam kromosom 17. Gejala gangguan ini meliputi problem memori jangka pendek dan kesulitan mempertahankan keseimbangan dan berjalan. Awitan penyakit ini terjadi pada usia 40-an dan 50-an tahun dan penderita penyakit ini hidup rata-rata hingga 11 tahun setelah awitan gejala.
c.       Demensia vaskular
Kausa primer demensia vaskular, dahulu disebutdemensia multi infark, diperkirakan adalah penyakit vaskular serebral multipel, menyebabkan pola gejala demensia. Demensia vaskular paling sering ditemukan ada pria, terutama mereka dengan hipertensi yang sudah ada sebelumnya atau faktor resiko kardiovaskular lain. Gangguan ini terutama mempengaruhi pembuluh serebral berukuran kecil dan sedang, yang mengalami infark dan menyebabkan lesi parenkim multipel yang tersebar secara luas di otak.
d.      Penyakit Binswanger
Penyakit binswanger juga dikenal sebagai ensefalopati arteriosklerotik subkortikal. Di tandai oleh adanya banyak infark kecil pada substansia alba yang menyisakan regio korteks. Meski penyakit binswenger dahulu dianggap sebagai kondisi yang jarang.
e.       Penyakit Pick
Berlawanan dengan distribusi parietal-temporal temuan patologis pada penyakit Alzheimer. Penyakit pick ditandai oleh atrofi dalam jumlah lebih besar di regio frontotemporal. Penyakit ini paling sering pada pria.
f.       Penyakit Jisim Lewy
Penyakit jisim lewy adalah demensia yang menyerupai penyakit Alzheimer dan sering di tandai oleh halusinasi, gambaran parkinson dan tanda ekstrapiramidal. Jisim inklusi lewy ditemukan di korteks serebri insidensi pastiya tidak diketahui. Pasien dengan penyakit ini menunjukkan efek simpang yang nyala bila diberikan obat-obatan antipsikotik.
g.      Penyakit Huntington
Penyakit Huntington secara klasik menyebabkan demensia. Demensia yang tampak pada penyakit ini adalah demensia tipe subkortikal, yang ditandai oleh lebih banyak abnormalitas motorik dan lebih sedikit abnormalitas bahasa dibanding pada demensia tipe kortikal. Demensia pada penyakit  huntington menunjukkan perlambatan psikomotor dan kesulitan dengan tugas yang rumit, namun memori, bahasa, dan tilikan relatif tetap intak pada stadium awal dan pertengahan penyakit. Namun, saat penyakit ini berlanjut, demensianya menjadi komplet, gambaran yang membedakannya dengan demensia tipe Alzheimer selain gangguan pergerakan khoreoathetoid yang klasik adalah tingginya insidens depresi dan psikosis.
h.      Demensia terkait trauma kepala
Demensia dapat merupakan secuale trauma kepala, sebagaimana halnya serangkaian luas sindrom neuropsikiatri lain, termasuk neurosifilis.
2.4  Gambaran klinis
Klinisi harus mencatat keluhan pasien mengenai hendaya intelektual dan sifat mudah lupa, juga bukti adanya pengelakan, penyangkalan atau rasionalisasi pasien yang bertujuan menyembunyikan defisit kognitif. Keteraturan yang berlebihan, penarikan diri secara social, atau rasionalisasi pasien yang bertujuan menyembunyikan deficit kognitif. Keteraturan yang berlebihan, penarikan diri secara sosial atau kecenderungan menghubung-hubungkan kejadian hingga detail terkecil dapat bersifat karakteristik dan ledakan kemarahan yang mendadak atau sarkasme dapat terjadi. Penampilan dan perilaku pasien harus diamati. Emosi yang labil, cara berpakaian tidak rapi, ucapan yang tak terinhibisi, lelucon konyol atau kelakuan dan ekspresi wajah yang kosong, apatis, atau membosankan mengesankan adanya demensia, terutama bila disertai hendaya memori.
Hendya memori secara khas merupakan gambaran awal dan prominen pada demensia, khususnya pada demensia yang melibatkan korteks, seperti demensia pada tipe Alzheimer. Pada  awal perjalanan demensia, hendaya memori bersifat ringan dan biasanya paling jelas untuk kejadian yang baru saja terjadi; orang lupa mengingat nomor telepon, percakapan dan kejadian yang berlangsung hari itu. Seiring perjalanan penyakit demensia, hendaya memori menjadi berat dan yang tinggal hanya informasi yang paling awal di pelajari (seperti tempat lahir seseorang).
Oleh karena memori amat penting untuk orietasi terhadap orang, tempat, dan waktu, orientasi dapat terpengaruh secara progresif  selama perjalanan penyakit demensia. Contohnya, pasien demensia mungkin lupa kembali kekamarnya setelah pergi ke kamar mandi. Meski demikian, tak peduli seberapa parah disorientasiyang dialami, pasien tidak menunjukkan hendaya tingkat kesadaran.
Proses demensia yang menyerang korteks, terutama demensia  tipe Alzheimer dan demensia vascular, dapat memengaruhi kemampuan berbahasa pasien. DSM-IV-TR memasukkan afasia sebagai salah satu criteria diagnosis. Kesulitan berbahasa dapat ditandai oleh cara berkata-kata yang samar-samar, streotipi, tidak tepat, atau sirkumtansial dan pasien mungkin juga mengalami kesulitan menyebutkan nama benda.




2.5  Diagnosa   
Pedoman diagnosis demensia pada penyakit Alzheimer:
1.      terdapatnya gejala demensia
2.      onset bertahap (insidious onset) dengan deteriorasi lambat.
Onset biasanyasulit ditentukan waktunyayang persis, tiba-tiba orang lain sudah menyadari adanya kelainan tersebut. Dalam perjalanan penyakitnya dapat terjadi suatu taraf yang stabil (pleteau) secara nyata.
3.      Tidak adanya bukti klinis, atau temuan dari pemeriksaan khusus, yang menyatakan bahwa kondisi mental itu dapat disebabkan oleh penyakit otak atau sistemik lain yang dapat menimbulkan demensia (misalnya hipotiroidisme, hiperkalsemia, defisiensi vitamin B12, defisiensi niasin, neurosifilis, hidrosefalus bertekanan normal, atau hematoma subdural).
4.      Tidak adanya serangan apoplektik mendadak, atau gejala neurologik kerusakan otak fokal seperti hemiparesis, hilangnya daya sensorik, defek lapangan pandangan mata, dan inkoordinasi yang terjadi dalam masa dini hari gangguan itu (walaupun fenomena ini di kemudian hari dapat bertumpangtindih).
Pedoman diagnosis demensia vaskular:
1.      Terdapatnya gejala demensia.
2.      Hendaya fungsi kognitif biasanya tidak merata (mungkin terdapat hilangnya daya ingat, gangguan daya pikir, gejala neurologis fokal). Daya tilik dari (insight) dan daya nilai (judgment) secara relatif tetap baik.
3.      Suatu onset yang mendadak atau deteriorasi yang bertahap, disertai adanya gejala neurologis fokal, meningkatkan kemungkinan diagnosis demensia vaskular. Pada beberapa kasus, penetapan hanya dapat dilakukan dengan pemeriksaan CT-Scan atau pemeriksaan neuropatologis.
Pedoman diagnostik Demensia pada penyakit Pick:
1.      Adanya gejala demensia yang progresif
2.      Gambaran neuropatologis berupa atrofi selectif dari lobus frontalis yang menonjol, disertai euforia, emosi tumpul, dan perilaku sosial yang kasar, disinhibisi, dan apatis atau  gelisah.
3.      Manifestasi gangguan perilaku pada umumnya mendahului gangguan daya ingat..
Pedoman diagnosis Demensia pada penyakit Huntington:
1.      Ada kaitan antara gangguan gerakan koreiform (choreiform), demensia, dan riwayat keluarga dengan penyakit Huntington.
2.      Gerakan koreiform yang involunter, terutama pada wajah, tangan, dan bahu, atau cara berjalan yang khas, merupakan manifestasi dini dari gangguan ini.gejala ini biasanya mendahului gejala demensia, dan jarang sekali gejala dini tersebut tak muncul sampai demensia menjadi sangat lanjut.
3.      Gejala demensia ditandai dengan gangguan fungsi lobus frontalis pada tahap dini, dengan daya ingat relatif masih terpelihar, sampai saat selanjutnya.
2.6  Diagnosis banding
1.      Demensia vaskular versus serangan iskemik sesaat (TIA)
Serangan iskemik sesaat (TIA) adalah episode singkat disfungsi neurologis fokal yang berlangsung kurang dari 24 jam (biasanya sampai 15 menit).

2.      Delirium
Membedakan antara delirium degan demensia dapat menjadi lebih sulit dari pada yang dinyatakan dalam klasifikasi DSM IV-TR.umumnya delirium dibedakan berdasarkan awitan yang mendadak, durasi singkat, fluktasi hendaya kognitif sepanjang hari, eksaserbasi gejala secara nokturnal, gangguan nyata pada siklus tidur bangun, serta gangguan atensi dan persepsi yang prominen.

3.      Depresi
Sejumlah pasien depresi mengalami gejala hendaya kognitif yang sulit dibedakan dengan gejala demensia. Gambaran klinisnya terkadang disebut sebagai pseudodemensia. Pasien dengan disfungsi kognitif terkait depresi mengalami gejala depresif prominen, memiliki daya tilik yanglebih baik terhadap gejala dibanding pasien demensia, dan seringkali memiliki riwayat episode depresif. 
4.      Gangguan buatan
Orang yang mencoba meniru kehilangan memori, seperti pada gangguan buatan, melakukannya secara serampang dan tidak konsisten. Pada demensia sejati, memori terhadap waktu dan tempat akan hilang sebelum memori terhadaporang dan memori jangka pendekhilang lebih dahulu sebelum memori jangka panjang.
5.      Skizofrenia
Walaupun skizofrenia mungkin dikaitkan dengan hendaya intelektual derajat tertentu, gejalanya tidak separah gejala psikosis dan gangguan isi pikir yangtampak pada demensia.
6.      Penuaan normal
Penuaan tidak selalu dikaitkan dengan adanya penurunan kognitif yang signifikan namun problem memori derajat ringan dapat terjadi sebagai bagian penuaan normal. Kejadian normal ini kadang-kadang disebut sebagai hendaya memori terkait usia atau keterlupaan senilis ringan. Hal ini dibedakan dengan demensia berdasarkan keparahannya yang serta fakta bahwa hal ini tidak mengganggu perilaku sosial dan okupasional orang tersebut secara signifikan.
7.      Gangguan lain
Retardasi mental tidak mencangkup hendaya memori dan terjad di masa kanak-kanak. Gangguan amnesik ditandai hilangnya memori secara terbatas dan tanpa perburukan. Depresi mayor dengan gangguan memori akan merespons pengobatan. Berpura-pura sakitserta gangguan hipofisis harus disingkirkan namun kemungkinannnya kecil.

2.7  Pengobatan
Langkah pertama pengobatan demensia adalah verifikasi diagnosis.
1.      Terapi psikososial
Pasien sering diuntungkan melalui psikoterapi suportif dan edukasional yang menjelaskan secara gamblang sifat dan perjalanan penyakit mereka. Mereka juga dapat mengambil keuntungan dari pertolongan atas kesedihan dan menerima tingkat disabilitas serta atensi terhadap masalah harga diri. Area fungsi manapun yang masih intak sebaiknya dimaksimalkan dengan cara membantu pasien mengenali aktivitas yang memungkinkan fungsinya berjalan dengan sukses. Pengkajian psikodinamik terhadap fungsi ego yang defektif, seperti mencatat terjadinya problem orientasi dalam kalender, membuat jadwal untuk membantu menyusun aktivitas, dan membuat catatan untuk problem memori.
Intervensi psikodinamik dengan anggota keluarga pasien demensia dapat sangat membantu. Mereka yang merawat pasien berjuang dengan perasaan bersalah, sedih, marah, dan lelah saat mereka menyaksikan anggota keluarga mereka berangsur-angsur memburuk. Masalah umum yang timbul diantara pelaku rawat melibatkan pengorbanan diri mereka dalam merawat pasien. Kebencian yang muncul secara berangsur-angsur dari pengorbanan diri ini sering kali ditekan rasa bersalah yang ditimbulkannya. Klinisi dapat membantu pelaku rawat memahami campuran perasaan kompleks yang dikaitkan dengan melihat orang yang dicintainya mengalami kemunduran serta dapat memberi pemahaman dan juga izin untuk mengekspresikan perasaan ini. Klinisi juga harus waspada terhadap kecenderungan pelaku rawat untuk menyalahkan mereka sendiri atau orang lain atas penyakit pasien dan harus menghargai peran yang dimainkan oleh pasien demensia tersebut dalam kehidupan anggota keluarganya.
2.      Farmakoterapi
Klinisi dapat meresepkan benzodiazepin untuk insomnia dan ansietas, antidepresan untuk untuk deprsi dan obat antipsikotik untuk waham dan halusinasi, namun mereka harus waspada akan kemungkinan efek idiosinkratik obat pada lansia (seperti eksitasi paradoksal, kebingungan dan peningkatan sedasi). Secara umum obat dengan aktivitas antikolinergik yang tinggi sebaiknya dihindari.
Donepezil (Aricept), rivastigmin (Exelon), galntamin (reminyl), dan takrin (cognex) adalah penghambat kolinesterase yang digunakan dalam pengobatan hendaya kognitif ringan sampai sedang pada penyakit Alzheimer. Obat-obat tersebut mengurangi inaktifasi neurotransmiterasetilkolin sehingga menghasilkan perbaikan sedang pada memori dan pemikiran yang bertujuan. Obat-obat tersebut paling berguna untuk penderita yang mengalami hilang memori ringan sampai sedang yang masih memiliki cadangan neuron kolinergik dibasal otak depan yang cukup untuk dapat mengambil keuntungan augmentasi neurotransmisi kolinergik.
Donepezil ditoleransi dengan baik dan digunakan secara luas. Takrin jarang digunakan karena digunakan karena potensi hepatotoksisitasnya. Data yang tersedia mengenai rivastigmin dan galantamin lebih sedikit, yang tampaknya cenderung lebih menyebabkan efek samping gastrointestinal dan neuropsikiatri dari pada donepezil. Tak satupun obat-obatan tersebut yang mampu mencegah degenerasi neuron progresifpada gangguan ini. Suatu obatbaru, memantin, memengaruhi metabolisme glutamate dan merupakan obat baru yang menjanjikan.
3.      Pendekatan pengobatan lain
Beraneka ragam pengobatan farmakologis lain untuk penurunan kognitif pada demensia sedang diteliti, sebagian besar dirancang untuk meningkatkan fungsi sistem neurotransmiter kolinergik. Obat lain yang sedang diuji untuk aktivitas peningkatan kognitif meliputi peningkatan metabolisme otak secara umum, penghambat saluran kalsium dan agen serotonergik. Sejumlah studi menunjukkan bahwa selegilin (eldepryl). Suatu penghambat selektif oksidase-B monoamine, serta obat anti inflamasi nonsteroid dapat memperlambat kemajuan penyakit ini.
Terapi sulih estrogen dapat mengurangi risiko penurunan kognitif pada wanita pasca monopouse; meski demikian, masih diperlukan lebih banyak studi untuk memastikan efekini. Studi kedokteran alternatif sedang memeriksa gingo biloba dan fitomedisinal lain untuk melihat apakah agen tersebut memiliki efek positif terhadap kognisi.
3.8  Perjalanan penyakit dan prognosis    
Perjalanan penyakit demensia yag klasik adalah awitan pada pasien berusia 50-an atau 60-an tahun, dengan perburukan bertahap selama 5 sampai 10 tahun, yang akhirnya berujung pada kematian. Usia saat awitan dan kecepatan perburukan bervariasi di antara tipe demensia dan dalam katagori diagnosis individual. Rata-rata ekspektasi angka harapan hidup pada pasien dengan Alzheimer adalah sekitar 8 tahun. Dengan kisaran antara 1 sampai 20 tahun. Data menyimpulkan bahwa penderita dengan dengan demensia dengan awitan dini atau adanya riwayat keluarga demensia cenderung mengalami perjalanan penyakit yang cepat. Pada studi terkini terhadap 821 penderita penyakit Alzheimer median waktu bertahap hidup 3,5 tahun. Sekali demensia didiagnosis, pasien harus menjalani pemeriksaan medis dan neurologis lengkap karena 10-15 persen pasien demensia memiliki kondisi yang potensial reversibel jika pengobatan dimulai sebelum terjadi kerusakan otak permanen.
            Perjalanan penyakit demensia yang paling sering dengan sejumlah tanda samar yang mungkin, pada mulanya diacuhkan oleh pasien maupun orang terdekat pasien. Awitan gejala yang bertahap paling sering dikaitkan dengan tipe Alzheimer, demensia vaskular dan gangguan metabolik.
Dengan penanganan psikososisal dan farnakologis dan mungkin karena sifat otak yang swa-sembuh, gejala demensia dapat berjalan secara lambat untuk sesaat atau bahkan sedikit menyurut. Regresi gejala tentunya merupakan suatu yang mungkin terjadi pada demensia reversibel (demensia akibat hipotiroidisme, hidrosefalus tekanan normal dan tumor otak) segera setelah pengobatan dimulai.perjalanan penyakit demensia bervariasi dari progresi mantap (biasanya terlihatpada demensia tipe Alzheimer) hingga demensia yang menjadi semangkin parah (biasanya tampak pada demensia vaskular) sampai demensia yang stabil (seperti yang dapat terlihat pada demensia yang terkait dengan trauma kepala).
3.9  Determinan psikososial  
Keparahaan dan perjalanan penyakit demensia dapat dipegaruhi faktor psikososial. Semangkin tinggi inteligensi dan edukasi pramorbid seseorang, semangkin baik kemampuannya untuk mengkompensasi defisit intelektual. Orang yang mengalami demensia awitan cepat akan lebih sedikit menggunakan mekanisme defisit dibanding mereka yang mengalami awitan perlahan. Ansietas dan depresi dapat meningkatkan dan memperparah gejala. Pseudodemensia terjadi pada pasien depresi yang mengeluhkan kerusakan memori namun yang pada kenyataan nya, mengalami gangguan depresif. Bila depresi diatasi defek kognitif akan menghilang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEGAWATDARURATAN PSIKIATRI

PPOK Penyakit Paru Obstruktif Kronik

SPASMOFILIA